22 January 2009

Strangers in The Night

Dua jam kemudian, pesawat yang kutumpangi landing di airport Ngurah Rai, Bali. Seperti yang sudah-sudah, sebagai penumpang first class Aku mendapat prioritas utama untuk keluar dari pesawat. Sebelumnya, Aku hanya ingin memilih acak di hotel mana Aku akan menginap. Toh ini hanyalah perjalanan selama tiga hari dua malam, Aku tidak peduli dimana Aku akan menginap. Karena Aku pasti akan lebih banyak menghabiskan waktuku di luar. Tapi Martha mencegahku melakukannya,

‘Untuk apa kau memesan first class kalau ujung-ujungnya disana kau hanya akan menginap di hotel yang tidak jelas.’ Kata Martha minggu lalu ketika ia datang ke kantorku untuk makan siang bersama. Kami biasa melakukannya, terutama kalau Aku butuh pertolongan saat Ibuku menelepon untuk mengajakku makan siang.

‘Tidak separah itu Martha. Kau tahu Aku khan, Aku lebih suka spontanitas dan sedikit petualangan.’ Aku mengatakannya sambil mengedipkan mataku. Sebenarnya Aku sedang menggodanya, dia paling tidak bisa menghadapi sesuatu yang spontan misalnya. Dasar planner addict, pasti sebentar lagi ia akan histeris karena membayangkan bagaimana rasanya melakukan sesuatu tanpa rencana dan tujuan. Sangat bertolak belakang denganku. Si pencinta spontanitas dan selalu penasaran dengan hal-hal baru. Tapi anehnya kami sangat cocok dan nyambung. Bisa dibuktikan dari persahabatan kami yang sudah berlangsung selama, I don’t know, maybe 10 or 11 years? Tapi mungkin itu karena aku sebenarnya sering menemukan masalah ketika menerapkan spontanitasku itu, dan Martha, my problem solver! Always ready with all of her solution! God, sekarang aku sadar betapa aku selalu bergantung padanya. Tetapi tentu saja aku juga membalas kebaikannya itu. Dengan caraku sendiri tentunya. Yaitu ketika Martha merasa jenuh dan memerlukan sedikit rasa excitement dalam hidupnya, here i am! Ready to give her an adventurous life. Believe me, mungkin aku satu-satunya orang yang pernah melihat Martha begitu mabuk dan berdansa salsa semalaman bersama dua(!) orang pria di sebuah klub Latina. Atau saat ia menerima tantanganku untuk mencium mantan pacarnya sehari sebelum pelaminannya! Tapi Sayangnya, sejak ia menikah, kami sudah jarang sekali melakukannya. Tentu saja!

‘Bukan saatnya untuk hal seperti itu! Aku punya firasat. Dalam perjalananmu kali ini, kau akan mengalami sesuatu dan itu dapat merubah hidupmu selamanya.’ Ucapan Martha yakin. Aku menatapnya heran.

‘Kau terlalu banyak menonton serial drama.’ Kataku. Teringat akan serial Desperate Housewives yang selalu diikuti oleh Martha.

‘Apalagi yang akan kau lakukan? Bila kau punya sepasang balita kembar di rumahmu dan selain itu kau juga harus memasak makan malam dan membersihkan rumah untuk menyambut suamimu pulang bekerja. Itulah satu-satunya hiburanku.’ Jelasnya menggebu-gebu. Aku hanya tertawa mendengarnya. Tentu saja dia tidak benar-benar bermaksud seperti itu. Martha sangat mencintai suami dan anak-anaknya. Ia menikah dengan Krisna, teman kuliah kami dan mereka dianugerahi tidak hanya satu tapi dua anak yang lucu dan menggemaskan. Well, tepatnya kalau mereka sedang tidak mengacak-acak seisi rumah saja. Yang selalu mereka lakukan tiap hari dan membuatku teringat,

‘Oh ya, kemana mereka? Maksudku Alya dan Sheila.’ tanyaku sambil membereskan file-file pekerjaanku di meja sebelum siap untuk pergi makan siang. Martha memang selalu datang lebih awal, dia tidak suka terlambat. Sifatnya. Aku juga setuju dengan keputusannya untuk menamakan anak kembarnya sedikit berbeda. Mengapa para orangtua banyak menamakan anak mereka dengan Dina&Dini, Bagus&Bagas dan semacamnya merupakan suatu pertanyaan tak terjawab.

‘Di rumah mertuaku.’ Jawabnya singkat, karena ia sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan telepon genggamnya.

‘Kau mau menghubungi siapa?’ tanyaku lagi. Martha hanya memberikan tangannya, tanda kalau Aku harus diam. Setelah beberapa saat, ia pun berbicara lagi.

‘Selamat siang, Hard Rock Hotel Bali? Saya ingin reservasi untuk jumat minggu ini…’ Ternyata Martha menelepon salah satu hotel berbintang lima di Bali yang sangat terkenal itu dan juga dengan letaknya yang sangat strategis menghadap ke Kuta’s famed surfed beach itu. Dan atas jasa Martha juga, saat ini Aku hendak mencari orang yang akan menjemputku dari hotel di pick up area bandara. Karena Martha tidak hanya memesan kamar dengan rate Premium Deluxe Room tapi juga mengatur transportasiku disini. Tadinya Aku mau diikut sertakan dalam tour, tapi Aku bersikeras untuk berwisata seorang diri. Buat apa jauh-jauh berlibur ke Bali, bila akhirnya kau hanya bisa mengikuti jadwal yang sudah dipastikan dan tidak bisa sepuasnya berjalan-jalan.

BRAAK!!

Pada saat Aku masih berjalan dengan menarik koperku, tiba-tiba ada seorang pria yang menabrakku dari belakang sehingga Aku terjatuh dan barang-barang dari tote bag beige Longchamp-ku sekarang sudah berserakan di lantai. Brengsek! Umpatku refleks. Aku menanti orang yang menabrakku itu untuk membantuku berdiri dan mengambilkan barang-barangku. Tapi, pria itu malah berlalu tanpa sedikitpun menoleh dan meninggalkanku sendirian. Minta maaf pun tidak! Benar-benar brengsek! Makiku lagi dan umpatan-umpatan lainnya. Secepatnya, Aku bereskan tasku sampai ada seorang satpam yang ikut membantu dan berniat meninggalkan tempat itu segera. Aku tidak mau mood-ku untuk liburan jadi hilang hanya karena masalah kecil seperti ini. Kulanjutkan mencari orang yang ditugaskan menjemputku.

Ah itu dia. Ada seseorang yang memegang papan bertuliskan namaku. Andita Irvine.

‘Ms. Andita?’ tanya pemuda itu ketika Aku mendekatinya. Layaknya dari hotel berbintang lima, supir mereka menggunakan seragam safari berwarna biru gelap.

‘Benar.’ Jawabku singkat seraya menyerahkan koperku ketika dia mengulurkan tangan untuk memintanya.

‘Kalau begitu mari ikut dengan Saya. Kendaraan untuk anda sudah dipersiapkan di depan.’ Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Ketika Aku sampai di luar dan pria tadi membukakan pintu mobil untukku, Aku benar-benar terkejut. Aku langsung mengingatkan diriku untuk membelikan oleh-oleh untuk Martha. Lihat apa yang dia minta sebagai kendaraanku. Mercedes S 320. Hitam.

‘Martha, nggak terlalu berlebihan nih?’ tanyaku pada Martha ketika Aku sudah sampai di kamar hotel. Sepuluh menit yang lalu, Aku disambut oleh seorang petugas hotel yang mengalungkan untaian bunga pada leherku dan mengantarkanku ke meja receptionist untuk check in. Sekarang, hal pertama yang kulakukan di kamar adalah menelepon sahabatku Martha.

‘Ternyata kau sudah sampai? Bagaimana tadi perjalanannya?’ tanya dia balik tanpa memperdulikan pertanyaanku.

‘Sempurna. Apalagi yang kau harapkan dari first class dan penjemputan di airport dengan Mercedes?’ kataku sambil menegaskan pada kata terakhir. Kecuali insiden kecil di bandara tadi, kataku dalam hati. Tidak mau menceritakannya pada Martha, karena sebenarnya hal itu sedikit memalukan.

‘Mercedes? Padahal Aku meminta mereka menjemputmu dengan Bentley.’ Martha
menjawabnya dengan nada pura-pura kecewa.

‘Jangan bercanda. Kalau benar-benar Aku dijemput dengan Bentley, Aku lebih baik kabur dengan taksi dan menginap di Pollies. But, thanks anyway. Buat semuanya.’ Kataku sungguh-sungguh.

‘Ok. Have fun dan jangan sampai kau sungguh menginap di pollies ya. Karena disana tidak higienis. Kau ingat bagaimana Krisna dulu khan?’ katanya dengan nada keibuannya yang tegas. Aku tertawa mendengarnya. Dia memang sangat memperhatikanku dan Aku juga tidak lupa cerita Krisna ketika di Pollies dengan para bule-bule itu, waktu kita masih kuliah. Aku, Martha, Krisna dan beberapa teman kami yang lainnya berlibur ke Bali pada saat liburan semester. Saat itu, kami ingin melakukan kegilaan yang tidak masuk akal. Akhirnya, Krisna yang kalah undian harus mengikuti perintah kami, yaitu berjalan setengah bugil di pollies dan harus menggoda bule-bule backpackers yang ada disana. Sialnya bagi Krisna kegilaan itu berakhir dengan ciuman maut dari salah satu bule yang digodanya. Kenapa sial? Karena ternyata bule yang dicium oleh Krisna itu seorang pria! Pria itu sedang mabuk berat dan tiba-tiba menggamit lengan Krisna dan kenalah dia. Hah, benar-benar tidak terlupakan. Aku tersenyum geli mengingatnya.

‘Sip. Kalau begitu sampaikan salamku pada Krisna dan si kembar ya. Aku akan meneleponmu lagi besok. Bye.’ Aku mengakhiri pembicaraan dan mematikan telepon genggamku. Nah Andita, apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku melihat jam tanganku. Pukul 15.40, berarti 16.40 untuk Wita. Sudah cukup sore, tapi masih terlalu cepat untuk makan malam. Akhirnya kuputuskan berjalan-jalan menyusuri Pantai Kuta akan menjadi kegiatanku sore ini. Aku mengganti Oasis–red and white stripe–sweater dan skinny jeans-ku dengan mini dress chiffon berwarna turquoise dan syal pashmina krem. Tidak ketinggalan sunglasses dan thongs (sandal jepit) Havaianas sebagai pelengkapnya. Aku pun turun ke lobby hotel dan berjalan kaki menuju pantai.

Oh Shit! Itulah kata pertamaku ketika sampai disana. Bagaimana tidak, padahal bukan musim liburan, tapi banyak sekali berseliweran pasangan kekasih yang bermesraan dimana-mana. Yap, tepat sekali seperti yang kuinginkan. Pikirku sarkastik. Sendirian di pantai dan bukannya dengan pasangan, tetapi malah menyaksikan orang lain bermesraan. Hmm…lalu apa yang mau kau lakukan Andita? Balik ke hotel? Tidak..tidak. Itu hanya akan membuat liburanmu semakin sia-sia saja. Lebih baik Aku menunggu waktunya makan malam dengan melihat sunset dan tidak mempedulikan scene yang ada di sekelilingku. Aku berdiri sambil memandang ke lautan dan menikmati hembusan angin lembut yang menerpa wajah dan tubuhku. Membuat dress-ku melambai-lambai ringan tertiup angin. Ombak-ombak sudah semakin tenang, walaupun masih banyak dimanfaatkan oleh para surfer bule yang kulihat belum puas juga menjajal kemampuan mereka dan terus mencari the perfect wave dengan kulit gosong kecoklatan yang basah dan diam-diam kunilai cukup seksi apalagi sosok mereka yang berlatarkan temaram senja. Kemudian, pada saat Aku masih asyik memperhatikan ragamnya aktivitas di pantai sore itu, Aku menangkap sesosok pria tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku memicingkan mataku untuk melihatnya lebih seksama. Dilihat dari paras dan postur tubuhnya tidak salah lagi itu adalah pria yang menabrakku di airport! Memang sih pertemuan kami tadi hanya sekilas namun Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Terutama Aku akui karena pria itu lumayan menarik dengan tubuh yang atletis, sedikit seksi dan wajahnya yang luar biasa handsome! Tapi tetap saja brengsek! Makiku dalam hati. Secara tidak sadar Aku terus memerhatikan pria itu. Dari raut wajahnya yang walaupun tenang itu masih dapat terlihat muram, sepertinya ia sedang mengalami suatu masalah. Tapi Aku tidak tahu apa itu yang memang wajar, Aku khan tidak mengenalnya. Hanya saja, ada sesuatu pada dirinya yang membuat Aku tertarik dan tidak bisa melepaskan pandanganku. Celakanya, tiba-tiba pria itu menengok ke arahku dan memergoki Aku yang dari tadi terus mengamatinya! Aku langsung berpikir cepat dan bermaksud untuk segera memalingkan wajahku, tapi sebelum Aku bisa bertindak apa-apa, pria itu sudah tersenyum sekilas dan pergi meninggalkan pantai. Aku hanya terpaku di tempatku berdiri. Sekarang Aku benar-benar merasa seperti orang tolol. Bagaimana tidak, Aku telah dibuat malu dua kali! oleh orang yang sama! Yang membuatku menjadi beringsut kesal, tapi tidak tahu harus menyalahkan siapa. Huh, Aku pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Mencoba melupakan peristiwa dan pria tadi. Berharap tidak ada lagi kejadian konyol hari ini terutama yang berhubungan dengan pria tadi! Tapi ternyata, kejadian-kejadian ini tidak berhenti sampai situ saja.

Menunggu untuk membuktikan perkataan Martha tempo hari. Yang biasanya selalu menjadi kenyataan.

---

‘Permisi Miss. Ini segelas rose wine untuk anda.’ Seorang waiter mengantarkannya padaku. Aku memandangnya heran.

‘Tapi Saya tidak memesannya.’ Kataku mengkonfirmasikan kesalahpahaman ini.

'Ya benar. Tapi ini adalah compliment dari pria di meja itu.’ Si waiter menunjuk seorang pria yang sekarang sedang mengangkat gelas wine-nya sendiri seperti mengajak toast ke arahku. Yang ternyata pria itu adalah pria tadi! Pria yang sudah membuatku malu dua kali hari ini. Aku hanya tersenyum kikuk ketika tiba-tiba pria itu berdiri dan menghampiriku yang entah kenapa, cukup membuat jantungku berdetak semakin cepat. Apa yang terjadi Andita? Kau khan sudah berpengalaman dalam hal seperti ini tapi mengapa untuk pria yang satu ini kau jadi salah tingkah?

‘Maaf, apa Saya mengganggu anda?’ Pria itu mengawali pembicaraan dengan suara penuh percaya diri.
‘Tidak. Tidak sama sekali.’ Jawabku kaku.
‘Kalau begitu bolehkah Saya bergabung dengan anda?’ tanyanya lagi. Masih dengan sikapnya yang luwes dan tidak terpengaruh oleh kekakuanku. Yang menurutku justru membuatnya diatas angin.

‘Hmm..Boleh saja.’ Refleks kuucapkan. Sial, pikirku. Biasanya Aku bisa mengontrol hal seperti ini dengan menolak halus dan mencoba mengulur waktu yang walaupun bila nantinya kami tetap duduk bersama, tapi tidak membuatnya memegang charge yang akan membumbungkan egonya. Ya, ego seorang pria. Tapi, seperti yang tadi sudah kukatakan, ada sesuatu pada pria ini yang membuatku terhipnotis dengan pesonanya. So…This one is my bad.

‘Nama Saya Angga. Anda menginap di hotel ini juga?’ Katanya memperkenalkan diri setelah duduk di kursi dan sekarang berhadapan denganku. Sorot Matanya benar-benar gelap! Membuatku seperti terbuai dan ingin menyusuri sisi misterius pada dirinya. Tapi Aku tidak mau terkecoh lagi dengan permainan ini. Saatnya untuk calm down.

‘Andita, dan benar Saya menginap disini. By the way, thanks for the wine.’ Jawabku tersenyum anggun dan mengangkat gelas wine-ku sambil menatapnya lekat lalu segera memalingkan wajahku. Mencoba membuatnya penasaran dan mengeluarkan pesonaku sendiri untuk memperbaiki kesalahanku tadi. Ingat kau harus bersikap sedikit tak acuh dan dingin. Walaupun ia setampan Matthew McConaughey, bagaimanapun juga, dialah yang menghampirimu duluan. Jadi bersikaplah seperti seorang Lady agar kau tidak diremehkan dengan cara sikap duduk yang anggun dan menunjukkan cara makanmu yang berkelas dan tunggulah ia memulai pembicaraan. Aku mencoba wine yang ia berikan,...not bad. In fact, it’s a one great wine. Hmm, this man got a taste.

‘Bisnis?’

‘Maaf?’

‘Wanita secantik anda tidak mungkin berlibur sendirian ke pulau Bali yang romantis seperti ini khan? Saya yakin anda pasti sedang melakukan perjalanan bisnis.’ Tembaknya. Hmm, pertanyaan yang cukup menjebak. Benar-benar profesional. Pikirku. Pasti banyak wanita yang mudah terpancing oleh rayuan dengan kata-kata seperti itu. Pertama tanyakan tujuan bepergian. Kalau jawabannya sesuatu yang menjurus pada jawaban kalau si wanita juga single berarti itu isyarat untuk go for it dan berakhir dengan seks! Tapi jika si wanita sudah memiliki pasangan, maka ia tinggal walk away dan meninggalkan kesan sebagai pria yang lepas dari genggaman. Kecuali kalau si wanita juga sedang mau bernakal-nakal sedikit. Tapi biasanya jarang pria mau menanggapi, karena mereka terlalu malas untuk berurusan dengan hal-hal complicated seperti itu. Hah, Dasar pria!

‘Sebenarnya tujuan Saya kemari memang untuk berlibur. Tetapi Saya tidak mengharapkan untuk melakukan diluar itu.’ Jawabku tegas. Kurang tepat, karena sesaat kemudian ia tertawa.

‘Maaf Saya tidak bermaksud apa-apa. Tenang saja, Saya juga…ingin berlibur. Melepaskan stress dari semua masalah serta hiruk pikuk di Jakarta dan Bali the goddess island ini sepertinya merupakan jawaban yang tepat. Bukankah begitu?’ ia tersenyum dan meminta persetujuanku. God, senyumnya itu! Seandainya Aku bukan seseorang yang menjaga citraku sebagai wanita terhormat, Aku akan mendorong tubuhku ke arahnya dan mengecupya tepat di bibir. Tapi tentu semua hanya khayalanku dan daripada melakukan kegilaan itu, Aku membalas senyumannya. Senyuman penggoda.

‘I Agree with that. Pada saat kau asyik bekerja rasanya tidak sadar semuanya berlalu begitu cepat dan kau sudah menjadi workaholic. Tapi saat kau tersadar kalau kau hidup di dunia nyata. Tubuhmu sudah tidak sanggup lagi dan itulah waktu dimana kau memutuskan kau harus berlibur dan melepaskan semua stress yang sebenarnya sudah menumpuk di kepalamu.’ Kataku. Langkah kedua saat mengobrol dengan pria yang baru kau kenal, tunjukkan bahwa kau lebih pintar dari yang mereka kira, sehingga mereka tidak akan mencoba mempermainkanmu.

‘Tepat sekali. Seperti itulah yang kurasakan.’ Ia mengangguk tanda setuju. Matanya tetap tertuju kepadaku. Membuat Aku bergidik merasakan pesonanya yang memabukkan itu. I don’t want to lose this night! Putusku. Toh juga, Aku single dan ada pria menarik yang membuat penasaran sedang bersamamu saat ini. So, definitely worth a shot.

Akhirnya malam itu, kami berdua habiskan dengan makan malam di Splash Bistro (tentunya. Yang sangat mendukung suasana karena cahaya yang temaram dari poolside restaurant ini.) dan berjam-jam (tanpa kusadari) berjalan-jalan di area hotel dan pantai sambil membicarakan hal-hal sepele. Sama sekali tidak menyinggung apa pekerjaan kami, tempat tinggal, love life dan sebagainya. Yap, hanya hal-hal tidak penting yang justru membuatku menjadi rileks dan nyaman serta tidak seperti yang kukira, Aku menemukan banyak sekali kecocokan dengannya. Misalnya, kami membicarakan berbagai filosofi-filosofi hidup, mengkritik gaya hidup di Indonesia yang sudah semakin tidak terkontrol dengan wild life-nya, Jakarta yang semakin panas dan macet! Sampai bagaimana kami berdua ternyata sama-sama pencinta lagu jazz (yang sempat kulupakan karena mengingatkanku pada Ferdi) sampai thin pizza dengan topping asli pepperoni tanpa tambahan aneh-aneh (paprika dan nanas?! Atau seafood!) dan kenyataan yang membuatku sedikit terkejut bahwa seorang pria seperti Angga juga gemar mengkoleksi dan membaca buku. Serius. Pria masa kini? Kemampuan mereka untuk menganalisis pertandingan sepak bola atau Formula 1 mungkin bisa diacungi jempol, tapi membaca buku? Kurasa tidak. Namun ketika dia menjelaskan buku yang dia baca hanyalah mengenai autobiografi orang-orang terkenal atau 101 cara untuk menjadi sukses dan semacamnya membuatku semakin terkejut. Ternyata masih ada pria yang seperti itu. Biasanya mereka terlalu tinggi menilai pride diri mereka sendiri untuk menambah pengetahuan mereka dengan membaca buku sehingga mereka mengasumsikan bahwa mereka itu lebih pintar dari wanita dan menetapkan hal itu di otak mereka. Tidak sadar, tumbuh rasa kagum dan ketertarikan yang semakin dalam olehku pada Angga. Tapi tentu saja Aku tidak menunjukkannya. Masih terlalu dini. Pikirku.

Hari semakin larut, tapi kami masih tetap saja mengobrol tiada habisnya. Sampai akhirnya, rasa kantuk mulai mengalahkan kami berdua. Sewaktu Aku melihat jam tanganku, hmm…pantas. Sekarang sudah jam 3 pagi. Tadi pagi Aku bangun lebih cepat untuk mengirim fax beberapa pekerjaan yang kukerjakan semalaman, lalu pergi ke rumah orangtuaku di daerah Bintaro dari apartmentku di kebayoran ditambah penerbangan pesawat dan belum istirahat. Tentu saja Aku merasa lelah.

‘Hah, belum pernah Aku merasa serileks ini. rasanya begitu tenang dan damai bukankah begitu?’ tanya Angga menghela nafas sambil melihat padaku meminta persetujuan. Tapi, belum
sempat kujawab karena ia melanjutkan kata-katanya lagi.

‘Sepertinya kita berdua sama-sama mengantuk sekarang’ Kata Angga atas reaksinya melihatku yang sudah menguap untuk kesekian kalinya. Yah, Aku tidak menutup kenyataan yang satu ini. Kali ini sepertinya mataku tidak mau berkompromi lagi. Kepalaku juga terasa berat.

‘Yeah, sepertinya begitu. Aku belum tidur cukup dari kemarin. Urusan pekerjaan.’ Aku melambaikan tanganku, tanda hal itu sudah biasa.

‘Hmm, Ternyata kau juga tipikal wanita pekerja keras di lain sisi dari menariknya kehidupanmu. Baiklah mademoiselle, sebaiknya kau kembali ke kamarmu sekarang. Biar kuantar.’ Angga menawarkan. Aku sudah tidak sanggup menolak lagi dan hanya mengangguk pelan. Sepertinya tubuhku sudah mulai sadar dan tidak mampu untuk bertahan lagi. Kemudian ketika Aku sudah sampai di depan kamarku, membuka pintu lalu berbalik dan berniat untuk mengucapkan terima kasih dan selamat malam pada Angga. Tiba-tiba ia menarik pelan tubuhku ke arahnya dan mengecup bibirku. Lembut dan berkesan. Lalu mengucapkan selamat malam dan meninggalkanku sendirian berdiri disitu. Aku hanya bisa termenung dan beberapa detik kemudian masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhku ke atas kasur dan memikirkan kejadian barusan. Wow, okay! Itu sedikit membuatku terkejut. pikirku. Tapi, Aku sudah terlalu mengantuk untuk bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi barusan dan tidak lama setelah itu Aku sudah tertidur dan terbuai ke alam mimpi.

Esoknya Aku terbangun cukup pagi. Damn! Masih jam 8 pagi. Padahal biasanya Aku tidak mudah terbangun bila sudah tertidur pulas. Tapi, memang kenyataannya tidurku tidak terlalu nyenyak. Aku terus teringat dia! Angga. Tentu saja tadi malam pada saat dia mengantarkanku ke kamar, Aku tidak berharap dia akan masuk dan kita melakukan seks. Nope. Mungkin Aku minum alkohol, clubbing sekali dua kali tapi Aku bukan penganut free sex. Dua hal yang tidak pernah Aku lakukan, itu dan drugs. Aku lebih memikirkan bagaimana semalam kita menghabiskan waktu. Serius, semenjak bersama Ferdi Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini lagi pada seorang pria. Tapi, Aku belum mau memutuskan bahwa Aku menyukai dia. Tidak secepat itu. Bagaimanapun juga semuanya itu membutuhkan proses dan one night stand (bukan dalam arti tanda kutip. Tapi pada kenyataannya kami berdua memang terbangun semalaman) kemarin belum cukup. Setidaknya Aku masih ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi Aku terlalu takut kalau ini hanyalah perasaan sepihak saja. Maksudku, Aku tidak mau mengakui padanya apa yang kurasakan pada saat ternyata dia berpikir sebaliknya. Lagipula pembicaraan kami semalam tidak ada yang penting. Tidak ada yang menyangkut tentang perasaan misalnya. Jadi kuputuskan untuk mandi. Mencoba untuk melupakan dia dengan mandi di bawah shower selama beberapa menit untuk mendinginkan pikiranku dan berniat untuk mengisi perut dengan sarapan di bawah agar Aku bisa berpikir dengan baik. “Food and cold shower always works when you need to think of something.” Menurutku.

Lalu, setelah Aku bersiap-siap dan sampai di lobby hotel, disitulah Aku menemukan dia!

Yah, Angga!

Tapi shock-ku bertambah saat Aku menyadari kalau dia tidak sendiri! Melainkan sedang berpelukan dengan seorang wanita. Tidak perlu berpikir lama, Aku segera menyingkir dari tempat itu. Tidak mau khan terlihat menangkap basah pria yang baru kau temui semalam dan kenyataan bahwa dia baru saja mencampakkanmu secara tidak langsung dengan bermesraan dengan wanita lain! Penasaran, Aku melihat dia mencium wanita yang dipeluknya tadi dan mengantarnya ke depan lobby. Great! Sekarang sudah ada satu kesimpulan di otakku. Jadi, setelah menghabiskan waktu semalaman denganku, sudah ada wanita lain yang menunggu di kamarnya begitu? Tapi tentu saja Aku tidak mengetahui detail yang sebenarnya. Mungkin saja dia pergi lagi dan tidak pernah masuk kamar. Tapi, peduli amat!

Bukan urusanku lagi sekarang.

Buat apa Aku menghabiskan energiku untuk memikirkan apa yang dia lakukan dengan wanita lain! What am I thinking? Seolah-olah dia berbeda dari pria-pria yang selama ini kukenal dan ternyata dia sama sekali tidak berbeda. Gosh, daripada Aku terus senewen berdiri disini berpikir yang tidak-tidak dan mengambil resiko terlihat olehnya, Aku memilih kembali ke kamar. Memesan breakfast Whole grain toast with eggs dan orange juice lewat room service dan mandi lagi! Tapi daripada shower, sekarang Aku memilih berendam air hangat dalam bath tub ditambah lavender aromatherapy body bath dengan harapan semoga pikiran tentang Angga bisa menghilang dari otakku saat Aku memendamkan kepalaku ke dalam air. Aku benar-benar membenci perasaanku saat ini. Mungkin Martha tetap benar, akan ada kejadian yang merubah hidupku selamanya. Yaitu penilaianku kepada pria akan selalu sama dan Aku tidak berniat untuk merubahnya kali ini. Huh, benar-benar bukan yang kuharapkan akan terjadi pada saat Aku mengambil liburan bukan?! Dan bagaimana mungkin kau Andita, seorang wanita yang mementingkan kecerdasan dan harga diri bisa dibodohi oleh pria seperti Angga dalam satu malam hanya karena kau merasa cocok dengannya. It Sucks! dan Aku berniat untuk segera melupakannya.

Semuanya.

And I guess…What happens in Bali, stays in Bali…

No comments:

Post a Comment