24 January 2009

The Best is Yet to Come

‘What happens in Bali, Stays in Bali.’ Martha mengulangi pernyataanku. Saat ini, Aku sudah berada di flatku lagi. Setelah penerbangan selama dua jam yang Sayangnya tidak begitu menyenangkan seperti saat Aku berangkat karena kepalaku sangat sakit. Apalagi kalau bukan karena terlalu banyak minuman alkohol untuk menghilangkan semua ingatanku about him di pesawat. Sekarang Aku sedang menceritakan semua yang terjadi di Bali pada Martha. Yeah, Aku memang berniat untuk melupakannya, tapi tidak sampai kau ceritakan pada sahabatmu terlebih dahulu khan? Dan itulah yang sedang kulakukan sambil membereskan pakaian-pakaianku dari dalam koper dengan Martha membantuku.

‘Yap. pernah dengar kata-kata seperti itu khan? Pokoknya Aku tidak akan pernah mau mengingatnya lagi.’ Kataku tegas sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Mengembalikan sikat gigi dan shampoo pada tempat asalnya.

‘hmm…kau tahu tidak? kata “pokoknya” itu sebenarnya merupakan suatu pernyataan keras untuk menolak berdemokrasi lho. Maksudku…’ Martha menghentikan kata-katanya saat Aku melihatnya sambil melotot dengan tatapan “this’s not the right time to talk about those kinds of crap”. ‘…Maksudku, apa kau yakin bisa melupakannya?’ Martha meneruskan ucapannya.

‘Tentu saja. Kenapa tidak?’ tanyaku balik dengan keyakinan penuh.

‘Well, Dit. Aku sudah mengenalmu sangat lama. Mungkin kau adalah seorang wanita yang keras kepala, tegas dan berkepribadian kuat diluarnya. Sehingga kau selalu bisa merasa melindungi dirimu dari serangan laki-laki yang mendekatimu. Intinya, kau bisa membuat semua pria merasa terintimidasi! Kau tahu tidak…?’ Analisis Martha yang kusambut dengan lemparan oleh-oleh kearahnya. Kain Bali dan beberapa aksesoris etnik.

‘Tidak separah itu.’ Aku membela.

‘hypothetically. Tapi…’ Martha sengaja menggantungkan ucapannya.

‘Tapi…?’ lanjutku.

‘sebenarnya kau itu sangat sensitif dan perasa sehingga kau juga… yaah… membutuhkan seorang pria di hidupmu. Untuk menopangmu istilahnya. Di saat kau sedang jatuh dan memerlukan dukungan seorang pria.’ Martha menyimpulkan.

‘True. Tapi hubungannya dengan hal ini?’ kataku. Tidak ada gunanya Aku menyangkal dan berdebat. Karena Martha sangat mengenalku. Begitu juga sebaliknya.

‘Aku belum selesai. Balik soal dirimu tadi. Karena kau kuat tapi juga sensitif, kau lumayan pemilih dan susaah sekali untuk memilih pria yang cocok sebagai pendampingmu bukan? Lihat kasusmu dengan Ferdi. Kau tidak berhubungan serius dengan pria lain sebelumnya untuk… dua tahun mungkin…?’ Kata Martha lagi.

‘tiga.’ Kataku membenarkan sambil menghela nafas dan merebahkan tubuhku di sofa. Letih sekali rasanya. Lebih tepat pikiranku yang letih. Jadi Aku berniat membereskan sisa barangku nanti.

‘Aha! Jadi kau sudah tahu khan?’ tanya Martha padaku.

‘What?’ Maaf saja, tapi otakku saat ini memang masih blank. Belum bisa diajak berbicara dengan pikiran jernih. Lagipula efek dari minuman double dry Vodka di pesawat tadi rasanya belum hilang sepenuhnya.

‘Aku rasa kau perlu menghirup udara segar. Starbucks atau Coffe bean?’ kata Martha menyadari keadaanku. Tidak ada yang bisa menyembuhkan sakit kepalamu. Selain secangkir espresso. Mungkin dua.

‘Both. Tapi lanjutkan dulu ucapanmu. Aku butuh kesimpulan secepatnya untuk hal ini.’ Aku mengernyitkan dahi dan memijit pelipisku.

‘OK. Mudah saja. Kau sudah menetapkan hatimu untuk pria ini’ Kata Martha.

‘Hah?’ kataku spontan dan duduk tegak. Aku menatapnya bingung.

‘You listen to me. Maksudku disini…’ Martha mencoba menjelaskan perlahan saat dia melihatku shock. ‘…Angga adalah pria yang akan menggantikan Ferdi di hatimu. Buktinya, dia bisa membuatmu terpikat dan tidak bisa berhenti memikirkannya. Padahal kau itu kan orang yang sangat picky dalam urusan yang satu ini dan hal ini jarang sekali terjadi padamu. Lalu…’

‘Hold it right there…’ sesaat Aku tersadar atas ucapan Martha. Sebenarnya Aku tahu akan kemana arah pembicaraan kita, tapi Aku tidak mau mencapai kesitu. Maksudku that’s exactly, hal yang tidak ingin Aku akui sedang terjadi pada diriku sekarang dan Aku akan berusaha untuk menyangkalnya kali ini. Walaupun mungkin itu akan sia-sia saja bila kau sedang berbicara dengan Martha.

‘Apa? Kau mau mencoba menyangkalnya?’ kata Martha seperti membaca pikiranku.

‘No.’ Jawabku singkat.

‘It’s written all over your face.’ Martha menunjuk wajahku. Ughh…

‘Fine…Aku akui, Aku memang tertarik pada Angga. Tetapi, kau dengar ceritaku sepenuhnya tidak sih? Detail dimana Aku memergoki dia berpelukan dengan wanita lain tepat pada saat Aku berusaha mencarinya lagi.’ Kataku sambil berdiri dari sofa dan membuka kulkas. I’m running out of diet coke, pikirku. Mengambil sebotol S.Pellegrino, menenggaknya setengah, Lalu menutup pintu kulkas lagi dan mengambil sebatang rokok Capri yang tadi Aku beli di airport.

‘Ya. Aku dengar. Tapi itu khan hanya asumsimu. Mungkin saja dia temannya atau siapapun. Kau tidak tahu yang sebenarnya khan?’ Martha menghampiriku dan mengambil rokok yang baru saja kunyalakan dan mematikannya. Aku hanya bisa pasrah dan menyenderkan tubuhku di pantry dapur. Sebenarnya Aku bukan perokok. Hanya melakukannya bila Aku sedang stress atau terlalu banyak pikiran. Jadi Martha, sebagai sahabat yang baik selalu menghentikanku melakukan kebiasaan buruk yang satu itu dan Aku berterima kasih untuknya.

‘Yeah, lalu bagaimana dengan ciuman itu?’ tanyaku.

‘Denganmu atau wanita itu?’

‘Marthaa…’ gemas rasanya bila Aku yang menjadi objek pembicaraan. Karena Martha selalu senang mempermainkan kata-kataku.

‘Itu memang tidak lazim. Tapi, kau tetap tidak bisa memutuskan seenaknya. Bagaimanapun juga kau tidak tahu kenyataannya. Saranku, bertemulah sekali lagi dengannya dan tanyakan langsung. Paling tidak tentang malam itu saja. Lalu tentang kenyataannya nanti, itu semua keputusanmu. Come on,at least do it for me! Dari ceritamu, sepertinya dia itu pria one of a kind yang sudah sangat langka di Jakarta ini.’ Kata Martha. Memang benar apa yang Martha katakan. Aku memang masih sedikit penasaran pada Angga. Karena semenjak Aku melihat dia di lobby itu, Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tentu saja Aku tidak tinggal diam di kamarku, toh dia sudah tahu di kamar mana Aku menginap dan Aku tidak mau dia mendatangiku. Jadi Aku berjalan-jalan seharian di seputar kota. Berbelanja aneka aksesoris dan kerajinan tangan khas Bali di Jalan Poppies, Ubud atau Pasar Seni Sukawati, mencoba berbagai macam restoran di Legian Street, pergi ke gallery lukisan. Mencoba berbagai macam spa. Apapun. Selama tidak kembali ke hotel yang memungkinkan Aku bertemu dengannya lagi. Pada hari kepulanganku Aku juga check out pagi-pagi sekali dan menunggu pesawatku di airport dan menghabiskan sisa uangku di duty free shop. Bukannya bermaksud menjadi pengecut atau apa. Hanya saja Aku sedang tidak ingin memulai suatu drama. Jadi Aku memutuskan lebih baik menghindarinya saja saat itu dan seperti biasa, penyesalan selalu datang belakangan.

‘hmm…walaupun Aku ingin. Aku tidak bisa.’ Kataku sambil melihat jam tanganku dan membuka rak sepatu. Aku mengambil sepasang rubber flat merah Sigerson Morrison-ku sebagai warna kontras untuk shirt katun putih Liz Claiborne dan jeans acid wash Miss Sixty serta kalung batu-batuan yang sempat kubeli di Bali yang saat ini sedang kupakai.

‘Kenapa?’ tanya Martha yang menyadari gelagatku, sekarang menaruh gelas bekas guava juice-nya di wastafel dan membereskan tote bag Louis Vuitton-nya. Satu hal yang berbeda pada selera berbelanja kami. Dia lebih menyukai barang-barang bermerk terkenal seperti Prada, Gucci, Louis Vuitton dan sebagainya. Sedangkan bagiku Mango atau Debenhams sudah cukup. Toh, aku lebih mementingkan kenyamanan daripada merk. Bahkan waktu kuliah dulu, aku sering hunting baju vintage di Pasar Senen. Yang sering diomeli oleh Martha kalau sampai ketahuan karena ia sama sekali tidak suka pada sesuatu yang tidak higienis.

‘Karena…’ Aku mengambil kunci mobil dan menutup pintu kamar. ‘…Aku tidak mengetahui sedikitpun tentang dia.’ Jawabku menghela nafas sambil meminta Martha memilih kunci mobilku atau dia sendiri. Mobilku.

‘Maksudnya?’ tanya Martha. Sekarang kita berdua sudah berada diluar, Aku mengunci pintu apartmentku lalu bersama Martha menuju ke parking lot. Meminta tolong pada satpam yang bertugas untuk membukakan gerbang pintu masuk.

‘Dari berjam-jam kita mengobrol malam itu, Aku tidak tahu apapun kecuali kalau dia bernama Angga dan kopi favoritnya adalah mocca espresso dari Starbucks. Intinya, We practically never talk about our personal lives.’ Aku tersenyum getir pada Martha. Kami berdua masih berdiri di sisi mobil. Menungguku membunyikan alarm kunci.

‘Oh great.’ Kata Martha datar, membuka pintu dan masuk ke dalam.

No comments:

Post a Comment