18 February 2009

Love’s Been Good to Me

‘Aku sudah memberitahu Mama. Kalau itu perusahaanmu. Tapi sepertinya ia tidak mendengarkan. Wajar saja, waktu itu kami sedang makan siang dan Mama sedang mengobrol dengan Tante Linda. Kau tahu maksudku khan?’ saat ini Aku sedang menyetir mobilku ke hotel tempat Aku akan bertemu dengan Ibuku untuk membicarakan tentang proyekku kali ini. Aku baru berhasil menelepon adikku sekarang karena ia dari tadi tidak dapat dihubungi yang Aku tahu pasti sedang sibuk mengurus butik. Maklumlah ia memang orang kepercayaan Ibuku jadi Aku yakin pasti ia sedang pusing mencari penggantinya untuk beberapa minggu ini dan tentu saja Aku tahu maksudnya! Kalau Ibuku sudah bertemu dengan Tante Linda, sahabatnya yang dulu sesama model. Maka jangan harap kau akan diacuhkan. Setidaknya itu yang Aku dan adikku pelajari selama ini.

‘That explain a lot. Tapi, kapan kau makan siang dengan mereka?’ tanyaku seraya masuk ke jalur lambat.

‘Hari kamis yang lalu. Mama dan Tante Linda datang ke Bandung. Melihat butik.’ Jelas Sylvie.

‘Sudah lima hari yang lalu? Kenapa kau tidak memberitahuku?’ tanyaku lagi.

‘Well, kami memutuskannya mendadak. Sebenarnya tentang fashion show dan konferensi pers ini semua ide Tante Linda dan Mama juga sudah mempunyai banyak sekali rancangan baru yang siap diproduksi sekaligus prospek dari acara ini yang lumayan bagus dan menjanjikan karena itulah Aku dan Papa juga setuju. Lagipula waktu itu kau sedang merencanakan untuk pergi berlibur. Aku tahu kau sudah lama tidak mengambil liburan jadi Aku tidak mau mengganggumu dengan masalah pekerjaan.’ Jelasnya lagi.

‘OK. Kita bicarakan itu nanti saja. Kapan tepatnya kau datang ke Jakarta?’ tanyaku sambil membelokkan mobilku masuk ke dalam area hotel. Hotel baru bernama Marvalo yang terletak di bilangan Kuningan. Tidak terlalu jauh dari kantorku, jadi setelah Aku tadi makan siang dengan Tasya (yang hasilnya Aku harus menceritakan peristiwa Bali sekali lagi padanya dan sekali lagi ketika Robbi, teman terdekatku di kantor selain Tasya datang bergabung) di Sushi Groove Setiabudi One, Aku bisa cepat sampai di hotel.

‘Paling cepat besok pagi. Oh ya, untuk pekerjaan ini Aku tidak akan menginap di rumah Mama. Tapi Aku akan tinggal di apartment Ed di Arkadia Mampang, tahu tempatnya khan? Lebih dekat dengan hotel lagipula kau bisa dengan mudah menemuiku.’

‘Baiklah kalau begitu, Aku sudah sampai di hotel. Nanti Aku telepon lagi. Bye.’ Aku mengakhiri pembicaraan dan masuk ke basement untuk memarkir mobilku. Setelah itu, Aku naik lift dan menuju ke lobby untuk menemui Bos dan Ibuku.


Pertama kami bertiga membicarakan masalah proyek kali ini di cafeteria hotel selama setengah jam. Untung saja Ibuku bisa berkompromi untuk bersikap professional. Sebenarnya Aku tidak heran, karena sejak dulu sewaktu masih aktif di modelling, Ibu menjadi keSayangan semua desainer juga karena sikapnya yang selalu bertanggung jawab atas pekerjaannya dan itu masih terbawa sampai sekarang apalagi karena ia juga memiliki butik. Lalu setelah pembicaraan kami selesai, kami bertiga beranjak pergi ke lobby lagi untuk mengakhiri pertemuan hari ini.

‘Andita. Sebelum kau datang tadi, Saya sudah banyak berbicara dengan Ibu Marciana yang ternyata Ibumu ya? Baiklah kalau begitu Saya tidak salah menyerahkan pekerjaan ini untukmu.’ Kata Pak Frank.

‘Terima kasih Pak Frank. Saya juga akan berusaha bekerja dengan professional dan tidak mencampur adukkannya dengan masalah pribadi.’ Kataku.

‘Ah tentu… tentu. Saya percaya padamu. Bu Marciana, Andita adalah orang kepercayaan Saya di perusahaan kami.’ Pak Frank berbicara pada Ibuku yang dari tadi mendengarkan kami berdua.

‘Benarkah? Kalau begitu Saya juga akan mempercayakan sepenuhnya padanya. Tapi untuk urusan acara ini, sebenarnya akan diurus oleh anak Saya yang satu lagi. Saya hanya mendisain baju dan berjalan di atas panggung saat akhir acara.’ Jelas Ibuku yang disambut dengan tawa Bosku. Hmm…

‘Saya rasa Ibu Marciana masih bisa menjadi salah satu modelnya. Ibu terlihat masih sangat muda!’ Ok. cukup sampai disitu.

‘Baiklah. Kalau begitu sudah ditetapkan tempatnya di hotel ini dan mari kita bicarakan masalah kontrak dan sebagainya di kantor besok.’ Kataku mengakhiri pembicaran mereka. Aku menatap tajam ke arah Ibuku. Lagipula pertemuan pertama seperti ini biasanya dilakukan untuk mengenal klien terlebih dahulu, tetapi untuk kasus yang satu ini, rasanya tidak perlu berlama-lama.

‘Benar sekali. Kalau begitu Saya permisi dulu. Masih ada urusan yang harus Saya selesaikan.’ Kata Ibuku yang menatapku balik. ‘Ee..Terima kasih ya Pak Frank dan Andita. Besok Sylvie yang akan mengurus masalah ini denganmu ya?’ Ibu menyalamiku dan Pak Frank dan lalu berbalik arah berjalan menuju pintu masuk lobby.

‘Andita, sebelumnya Saya ingin mengingatkanmu bahwa ini mungkin akan menjadi pekerjaan penentu untuk kenaikan posisimu di perusahaan. Jadi Saya mengharapkan kau mencurahkan semua energimu untuk ini oke. Selain itu, acara ini akan banyak mengundang perhatian pers dan publik. Koordinasikan dengan baik ya.’ Jelas Pak Frank yang kubalas dengan anggukan setuju.

‘Tentu saja Pak dan terima kasih atas kesempatan yang Bapak berikan pada Saya kali ini.’ Aku benar-benar tidak menyangka kalau hasil pekerjaanku selama ini sekarang akan membuahkan hasil.

‘Ya, dan Saya tahu kau biasanya menemui klienmu sendiri, tetapi kali ini berbeda. Saya datang karena ingin mengenalkanmu pada seseorang yang akan membantumu dan Saya harap kau bisa bekerja sama dengannya. Ah itu dia! Mari Andita.’ Pak Frank mengajakku berjalan menuju seseorang yang membelakangi kami di meja receptionist. Pak Frank menghampirinya dan mengajaknya berbicara. Tetapi Aku masih belum bisa melihat wajahnya.

‘Pak, perkenalkan. Ini publicist andalan kami. Andita Irvine.’ Pak Frank memberiku gestur untuk mendekat dan pria itu perlahan membalikkan badannya. Pada saat Aku melihat pria yang ada di hadapanku sekarang, Aku langsung terpaku dan shock. Aku menatap tidak percaya pada orang yang sekarang berada di hadapanku ini. Rasanya Aku masih belum siap dengan pertemuan ini bila suatu saat harus terjadi juga. Dan ini lebih mengagetkan daripada mendapati Ibumu sebagai klien penting yang akan memengaruhi kenaikan jabatanmu di kantor.

Pria itu adalah… Angga.

‘Halo, Saya Angga Marvalo. Senang berkenalan dengan anda.’ Angga mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman sambil tersenyum simpul.

‘Ah…iya. Andita Irvine.’ Aku tersadar dan balas menjabat tangannya. Tiba-tiba telepon genggam Pak Frank berbunyi.

‘Tunggu sebentar ya.’ Pak Frank berjalan menjauh untuk mengangkat telepon dan meninggalkan kami berdua. Kesempatan bagiku, karena hal pertama yang akan kulakukan sekarang adalah meminta penjelasan dari pria yang sekarang berdiri di sebelahku ini.

‘Siapa sih kamu?’ tanyaku tegas. Angga hanya tersenyum dan menghadap ke arahku.

‘Ya? Bukankah kita sudah berkenalan?’ Balas Angga polos seakan tidak ada apa-apa. Walaupun Aku berdiri kaku disampingnya, ia malahan bersikap santai dan mengantongi kedua tangannya pada saku celananya.

‘Tolonglah. Apa maksud semua ini?’

‘Tentang apa?’

‘Kau. Berada disini?’ nada suaraku semakin meninggi dan karena tidak mau terdengar seperti seorang wanita yang sedang histeris, Aku mengecilkan suaraku lagi.

‘Apakah salah kalau Aku berada di tempatku bekerja?’

‘Hah? Aku benar-benar tidak mengerti.’ Tapi Angga tidak sempat menjawab pertanyaanku karena Pak Frank yang sudah selesai menelepon sekarang sudah menghampiri kami lagi.

‘Andita, Saya ada urusan mendadak, jadi Saya harus segera kembali ke kantor. Kalau begitu Saya tinggalkan kau dengan Pak Angga untuk survey tempat ini, oke? Saya yakin Pak Angga bisa banyak membantumu, ia adalah general manajer hotel ini. Baiklah kalau begitu, Saya tunggu laporannya nanti sore. Dan Angga terima kasih ya atas bantuannya dan salam untuk Pak Lukman.’ Kata Pak Frank menjabat tangan Angga untuk terakhir kalinya dan sekarang sudah berjalan meninggalkan kami lagi. Lalu, apa tadi Aku tidak salah dengar?! General manajer hotel! Benar-benar tidak bisa kupercaya.

‘Kau. General manajer?’ tanyaku memastikan. Yang sebenarnya tidak perlu. Karena pada saat Aku menanyakannya ada beberapa pegawai hotel yang melewati kami dan menyapa Angga dengan membungkuk. Selain itu, jelas tertulis general manager di name tag emas yang terpasang di jasnya. Satu-satunya yang tidak bisa kupungkiri. Angga terlihat semakin tampan bila memakai jas. Pinstripe suit hitam by Hugo Boss or Mexx? Yang mana saja. Tapi tetap membuatnya terlihat tegap, sedikit necis tapi tetap menonjolkan sisi maskulinnya. Yah, walaupun begitu penampilannya di Bali ketika ia hanya memakai kemeja longgar biru laut dan cargo pants khaki serta sandal kulit Birkenstock waktu itu juga tidak kalah menariknya. Sepertinya Angga memang tipe pria yang cocok memakai pakaian apa saja. Untung saat ini pakaianku tidak jelek-jelek amat. Sussan’s shawl cardigan, ruffle front top dan charcoal pant.

‘Benar. Seperti yang bisa kau lihat. Hei, Aku ingin sekali berbicara banyak denganmu.’ Kata Angga. Tapi, Aku sudah bisa memprediksikan kemana arah pembicaraan kita nanti dan Aku sama sekali tidak membutuhkan penjelasan apapun. Lebih tepatnya, tidak siap mendengar kenyataan yang sebenarnya.

‘Berhubungan dengan pekerjaan? Kalau tidak, kapan-kapan saja. Sehabis ini Aku masih banyak pekerjaan di kantor. Kau tadi dengar sendiri khan, Pak Frank menunggu laporanku sore ini. Jadi Aku ingin menyelesaikan survey tempat secepatnya.’ Aku mengelak.

‘Tidak masalah. Kau tidak perlu khawatir. Melihat dari pekerjaanmu kali ini, sepertinya Aku bisa memprediksikan kalo kita akan sering bertemu.” Angga mengangkat bahu dan tersenyum. Sial, dia benar.

‘Begini. Langsung saja ya Pak Angga. Pekerjaan kali ini sangat penting untukku. Karena berpengaruh besar pada posisiku di perusahaan. Jadi Aku mohon, kita bisa bekerja sama dengan baik dan anggap saja kita baru berkenalan tadi. Bagaimana?’ Aku menawarkan persyaratan itu pada Angga.

‘Andy, kau tahu hal terakhir yang ingin kulakukan adalah menghalangimu. Aku hanya ingin menuntaskan apa yang terjadi saat kita…’ Aku melengos ketika ia memanggil namaku Andy–dengan pelafalan Inggris. Sejujurnya, sejak di Bali ia sudah memanggilku seperti itu yang membuatku sedikit deg! Yap, seperti itu. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena Andy adalah panggilan kesayangan Ayahku padaku sejak kecil. Dan hanya beliau-lah yang satu-satunya orang yang memanggilku begitu sampai saat ini. Yeah, mungkin tidak lagi.

‘Please Angga. Aku tidak ingin membicarakannya sekarang.’ kataku tegas kali ini. Semoga ia tidak terus memaksaku. Karena rasanya Aku tidak kuat bahkan hanya untuk menatap matanya sehingga Aku memalingkan wajahku sambil meliriknya dan semoga ia tidak menyadari sikapku yang kikuk. Setelah terdiam cukup lama, Angga yang dari tadi terus melihat tingkahku akhirnya menghela nafas dan tersenyum! Aku tidak tahu apa pikirannya sekarang tapi yang jelas ucapannya setelah itu membuatku lega.

‘Oke. Fine. Sekarang Aku akan fokus pada pekerjaan bila itu sangat penting untukmu. Mari ikuti Aku.’ Katanya sambil mempersilahkanku berjalan bersamanya ke tempat yang dituju. Akupun mengikutinya dan berjalan sedikit di belakang. Oh God, Aku benar-benar ingin menceritakan kejadian hari ini pada Martha secepatnya!