28 January 2009

Make me Smile

‘Hai Dita. Bagaimana liburanmu kemarin?’ Tasya rekan kerjaku di kantor menghampiriku saat Aku sedang membuat kopi untuk menemaniku bekerja hari ini. Lumayan dekat. Sebenarnya dia salah satu dari teman terdekatku di kantor.

‘Hmm…not bad.’ Jawabku berbohong sambil berjalan menuju ke mejaku bersama Tasya. Sudah tidak mau mengungkit tentang Angga lagi karena Aku belum bisa sepenuhnya melupakan dia.

‘Yeah right. Cerita padaku nanti ya. Karena sepertinya lebih dari lumayan....’ serius deh. Memang wajahku sebegitu mudahnya terbaca ya? ‘…Lagipula sekarang Pak Frank sedang menunggumu di ruangannya. Kelihatannya penting.’ Kata Tasya.

‘OK. Trims ya.’ Aku menaruh kopiku di meja dan sekarang menuju ruangan bosku di ujung lorong.

Tok.Tok. Aku mengetuk pintu.

‘Masuk’ Terdengar suara berat dari dalam.

‘Permisi. Bapak ada perlu dengan Saya?’ tanyaku sambil menutup pintu.

‘Ah Andita. Duduklah. Bagaimana liburanmu kemarin? Menyenangkan? Saya harap begitu. Karena langsung saja, ada pekerjaan yang ingin kuserahkan padamu.’ Sambut Pak Frank yang memang selalu straight forward kalau sedang berbicara itu. Itulah yang kuhormati darinya. Tidak suka berbasa basi dalam pekerjaan. Dan benar Andita, ini saatnya kau fokus pada pekerjaanmu. LIburanmu sudah lewat. Jangan pikirkan pria brengsek itu lagi.

‘Apakah itu pekerjaan yang tempo hari Bapak beritahukan sebelum Saya mengambil cuti? Seorang fashion designer pendatang baru yang ingin mempublikasikan clothing line-nya.’ Tanyaku sambil duduk di hadapan bosku setelah ia menawarkan.

‘Betul. Tapi ternyata sebenarnya dia bukan pendatang baru sama sekali. Dia sudah mempunyai suatu butik di Bandung dan ingin memperluas penjualannya ke Jakarta. Hanya saja dia cukup terkenal disini. Mantan model top. Karena itulah dia ingin membuat suatu event peragaan busana besar-besaran dengan banquet sekaligus konferensi pers di hotel bintang lima.’ Jelasnya. Hmm…ada sedikit fakta yang menggelitikku dan ingin kutanyakan.

‘Kalau begitu…siapa nama perancang berbakat ini Pak Frank?’ Tanyaku dan berharap semoga dugaanku salah.

‘Marciana Betti. Kau tahu?’ katanya. Ha! Menarik. Persis seperti yang kukhawatirkan! Marciana Betti, seorang sosialita sekaligus model yang dulu sempat menjadi incaran semua desainer terkenal untuk memeragakan pakaian mereka baik di dalam maupun luar negeri, menjadi icon sebuah merk kosmetik terkenal di Indonesia dan setelah berhenti menjadi model, sekarang membuka butik pakaian bernama Envious di Bandung dengan koleksi rancangannya sendiri yang saat ini sedang diburu oleh banyak orang. Karena rancangannya yang konservatif, elegant tapi tetap ready-to-wear. Selain itu berita mengenai keberadaanya juga cukup tersebar karena ia mempunyai koneksi dengan para selebriti, model papan atas dan sosialita Jakarta masa kini. Fakta lain yang kuketahui dengan pasti, nama aslinya memang Marciana Betti, tetapi semenjak menikah namanya berubah menjadi Marciana Irvine. Tak lain dan tak bukan dia adalah…Ibuku.

‘Halo…Ma? Ini Aku Andita.’ Kataku di telepon. Sesaat setelah Aku selesai membicarakan pekerjaanku dengan Pak Frank di ruangannya, hal pertama yang kulakukan adalah menelepon Ibuku. Tentu saja untuk meminta penjelasannya.

‘Dita...ada apa? Tumben kamu telepon. Bagaimana kalau hari ini kita makan siang?’ Aku tersenyum tak percaya dan menggelengkan kepalaku.

‘Tidak bisa. Aku ada pekerjaan yang mendesak. Harus menemui klien setelah makan siang nanti.’ Jelasku.

‘Oh, Sayang sekali. Tapi kebetulan, Aku juga ada sedikit urusan siang ini. Kau mau menemui siapa nanti? Selebritis lagi? Siapa tahu Aku kenal’ tanya Ibuku.

‘Menemuimu Ma.’ Jawabku singkat.

‘Tapi Aku sibuk hari ini Sayang.’ Aku lega karena ternyata Ibuku memang seperti yang kukira. Aku tersenyum lagi.

‘Aku mau menemui klienku. Marciana Betti. Ma, apa Mama tidak sadar kalau Mama sudah menggunakan perusahaanku untuk mempublikasikan clothing line Mama?’ Kataku akhirnya. Memang Ibuku tidak pernah mempedulikan hal-hal seperti ini dan Aku yakin dia tidak memilih perusahaanku karena Aku bekerja disini. Bukannya dia tidak memperhatikanku, justru sebaliknya. Hanya saja, terkadang dia itu suka nggak ngeh dan melakukan apapun yang sudah diputuskannya dan menurutnya benar. Sifat Ibuku.

‘Oh. Sepertinya Sylvie pernah menyebutkannya tapi kebetulan sekali bukan?! Kalau begitu Aku bisa menyerahkan semuanya padamu dengan tenang ya? Tadinya Aku sudah waswas dengan rencana ini. Sekarang Aku tidak perlu khawatir lagi.’ katanya antusias.

‘Iya Ma. Walaupun tidak sesimpel itu…anyway Sylvie mana? Aku yakin dia yang akan mengurus semua ini khan?’ percuma membicarakan sesuatu yang rumit dengan Ibuku. Lagipula, she wouldn’t bother after all. Tapi bila itu soal fashion, etiket atau cara untuk menjadi ibu rumah tangga masa kini yang aktif dan dinamis maka kau tidak akan bisa mendiamkannya. Cukup berdiam diri saja dan kau akan diberi kursus kilat mengenai kedua hal itu.

‘Adikmu masih di Bandung. Tapi setelah ia menemukan seseorang untuk mengawasi butikku, ia akan segera ke Jakarta bersama Alif.’ Sedikit informasi, Sylvie adikku yang hanya beda tiga tahun denganku sudah menikah dan sekarang tinggal di Bandung bersama suaminya. Kesibukannya sekarang adalah mengurus anaknya Alif yang masih berumur 3 tahun dan manajemen butik Ibu kami. Lumayan genting juga dulu. Sewaktu ia akan menikah. Karena berarti ia harus melangkahiku. Sebenarnya Ibuku yang membuat situasinya menjadi seperti itu. Bagaimanapun juga adat Jawa di keluarga kami dari Ibu masih cukup kental (yang terkadang membuatku sedikit heran dengan pemberian nama untuknya dan saudara-saudaranya yang lain), jadi setelah melalui perdebatan panjang mengenai kewajibanku untuk segera mencari seorang pria untuk kunikahi lebih dulu dan penolakan kerasku akan hal itu akhirnya Ibuku mengalah dan membiarkan Sylvie menikah terlebih dahulu. Keuntungannya bagiku? Biaya langkahan dari Sylvie yang sekarang menjadi kendaraanku setiap hari. Honda New City. Hasil dari pekerjaannya ketika magang menjadi seorang stylist di sebuah production house di New York pada saat dia kuliah dulu. Sebenarnya sih orangtuaku sanggup membiayai semua kebutuhannya, tapi begitulah adikku dan kenyataan bahwa semua keluargaku mempunyai ketertarikan di bidang fashion kecuali Ayahku yang seorang dokter ahli bedah di suatu rumah sakit Internasional. Aku tidak heran dengan keputusan adikku yang tidak mau melewatkan kesempatan langka itu.

‘Eddi?’ Eddi Iskandar, suami adikku. Seorang arsitek landscape yang cukup sukses dan dikenal tidak hanya di Bandung tapi juga di Jakarta, bahkan sampai ke Singapore dan Malaysia. Karena dialah adikku pindah ke Bandung dan awal pertemuan mereka adalah pada saat Sylvie dan Ed sama-sama kuliah di Columbia University, NYC. Sylvie mengambil jurusan bisnis dan Ed mengambil gelar master arsitek-nya pada jurusan Urban Living.

‘Dia masih punya satu proyek yang harus diselesaikannya. Tapi sepertinya ia akan menengok ke Jakarta kalau ada waktu senggang. Memang kenapa Sayang?’ kata Ibuku.

‘Tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu Aku akan menelepon Sylvie dan sampai bertemu nanti ya Ma.’

‘OK honey.’

‘Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang dari tadi mau kutanyakan.’

‘Ada apa?’

‘Mengapa Marciana Betti dan bukan Irvine?’ tanyaku memastikan.

‘Ah! Soal itu. Simpel saja. Alasannya karena nama itu lebih mudah diingat. Lagipula… lebih komersil dan unique daripada Marciana Irvine bukan?’ Hah, Ibu. Akupun mengakhiri pembicaraanku di telepon dan menenggak habis kopi yang kuambil tadi.

24 January 2009

The Best is Yet to Come

‘What happens in Bali, Stays in Bali.’ Martha mengulangi pernyataanku. Saat ini, Aku sudah berada di flatku lagi. Setelah penerbangan selama dua jam yang Sayangnya tidak begitu menyenangkan seperti saat Aku berangkat karena kepalaku sangat sakit. Apalagi kalau bukan karena terlalu banyak minuman alkohol untuk menghilangkan semua ingatanku about him di pesawat. Sekarang Aku sedang menceritakan semua yang terjadi di Bali pada Martha. Yeah, Aku memang berniat untuk melupakannya, tapi tidak sampai kau ceritakan pada sahabatmu terlebih dahulu khan? Dan itulah yang sedang kulakukan sambil membereskan pakaian-pakaianku dari dalam koper dengan Martha membantuku.

‘Yap. pernah dengar kata-kata seperti itu khan? Pokoknya Aku tidak akan pernah mau mengingatnya lagi.’ Kataku tegas sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Mengembalikan sikat gigi dan shampoo pada tempat asalnya.

‘hmm…kau tahu tidak? kata “pokoknya” itu sebenarnya merupakan suatu pernyataan keras untuk menolak berdemokrasi lho. Maksudku…’ Martha menghentikan kata-katanya saat Aku melihatnya sambil melotot dengan tatapan “this’s not the right time to talk about those kinds of crap”. ‘…Maksudku, apa kau yakin bisa melupakannya?’ Martha meneruskan ucapannya.

‘Tentu saja. Kenapa tidak?’ tanyaku balik dengan keyakinan penuh.

‘Well, Dit. Aku sudah mengenalmu sangat lama. Mungkin kau adalah seorang wanita yang keras kepala, tegas dan berkepribadian kuat diluarnya. Sehingga kau selalu bisa merasa melindungi dirimu dari serangan laki-laki yang mendekatimu. Intinya, kau bisa membuat semua pria merasa terintimidasi! Kau tahu tidak…?’ Analisis Martha yang kusambut dengan lemparan oleh-oleh kearahnya. Kain Bali dan beberapa aksesoris etnik.

‘Tidak separah itu.’ Aku membela.

‘hypothetically. Tapi…’ Martha sengaja menggantungkan ucapannya.

‘Tapi…?’ lanjutku.

‘sebenarnya kau itu sangat sensitif dan perasa sehingga kau juga… yaah… membutuhkan seorang pria di hidupmu. Untuk menopangmu istilahnya. Di saat kau sedang jatuh dan memerlukan dukungan seorang pria.’ Martha menyimpulkan.

‘True. Tapi hubungannya dengan hal ini?’ kataku. Tidak ada gunanya Aku menyangkal dan berdebat. Karena Martha sangat mengenalku. Begitu juga sebaliknya.

‘Aku belum selesai. Balik soal dirimu tadi. Karena kau kuat tapi juga sensitif, kau lumayan pemilih dan susaah sekali untuk memilih pria yang cocok sebagai pendampingmu bukan? Lihat kasusmu dengan Ferdi. Kau tidak berhubungan serius dengan pria lain sebelumnya untuk… dua tahun mungkin…?’ Kata Martha lagi.

‘tiga.’ Kataku membenarkan sambil menghela nafas dan merebahkan tubuhku di sofa. Letih sekali rasanya. Lebih tepat pikiranku yang letih. Jadi Aku berniat membereskan sisa barangku nanti.

‘Aha! Jadi kau sudah tahu khan?’ tanya Martha padaku.

‘What?’ Maaf saja, tapi otakku saat ini memang masih blank. Belum bisa diajak berbicara dengan pikiran jernih. Lagipula efek dari minuman double dry Vodka di pesawat tadi rasanya belum hilang sepenuhnya.

‘Aku rasa kau perlu menghirup udara segar. Starbucks atau Coffe bean?’ kata Martha menyadari keadaanku. Tidak ada yang bisa menyembuhkan sakit kepalamu. Selain secangkir espresso. Mungkin dua.

‘Both. Tapi lanjutkan dulu ucapanmu. Aku butuh kesimpulan secepatnya untuk hal ini.’ Aku mengernyitkan dahi dan memijit pelipisku.

‘OK. Mudah saja. Kau sudah menetapkan hatimu untuk pria ini’ Kata Martha.

‘Hah?’ kataku spontan dan duduk tegak. Aku menatapnya bingung.

‘You listen to me. Maksudku disini…’ Martha mencoba menjelaskan perlahan saat dia melihatku shock. ‘…Angga adalah pria yang akan menggantikan Ferdi di hatimu. Buktinya, dia bisa membuatmu terpikat dan tidak bisa berhenti memikirkannya. Padahal kau itu kan orang yang sangat picky dalam urusan yang satu ini dan hal ini jarang sekali terjadi padamu. Lalu…’

‘Hold it right there…’ sesaat Aku tersadar atas ucapan Martha. Sebenarnya Aku tahu akan kemana arah pembicaraan kita, tapi Aku tidak mau mencapai kesitu. Maksudku that’s exactly, hal yang tidak ingin Aku akui sedang terjadi pada diriku sekarang dan Aku akan berusaha untuk menyangkalnya kali ini. Walaupun mungkin itu akan sia-sia saja bila kau sedang berbicara dengan Martha.

‘Apa? Kau mau mencoba menyangkalnya?’ kata Martha seperti membaca pikiranku.

‘No.’ Jawabku singkat.

‘It’s written all over your face.’ Martha menunjuk wajahku. Ughh…

‘Fine…Aku akui, Aku memang tertarik pada Angga. Tetapi, kau dengar ceritaku sepenuhnya tidak sih? Detail dimana Aku memergoki dia berpelukan dengan wanita lain tepat pada saat Aku berusaha mencarinya lagi.’ Kataku sambil berdiri dari sofa dan membuka kulkas. I’m running out of diet coke, pikirku. Mengambil sebotol S.Pellegrino, menenggaknya setengah, Lalu menutup pintu kulkas lagi dan mengambil sebatang rokok Capri yang tadi Aku beli di airport.

‘Ya. Aku dengar. Tapi itu khan hanya asumsimu. Mungkin saja dia temannya atau siapapun. Kau tidak tahu yang sebenarnya khan?’ Martha menghampiriku dan mengambil rokok yang baru saja kunyalakan dan mematikannya. Aku hanya bisa pasrah dan menyenderkan tubuhku di pantry dapur. Sebenarnya Aku bukan perokok. Hanya melakukannya bila Aku sedang stress atau terlalu banyak pikiran. Jadi Martha, sebagai sahabat yang baik selalu menghentikanku melakukan kebiasaan buruk yang satu itu dan Aku berterima kasih untuknya.

‘Yeah, lalu bagaimana dengan ciuman itu?’ tanyaku.

‘Denganmu atau wanita itu?’

‘Marthaa…’ gemas rasanya bila Aku yang menjadi objek pembicaraan. Karena Martha selalu senang mempermainkan kata-kataku.

‘Itu memang tidak lazim. Tapi, kau tetap tidak bisa memutuskan seenaknya. Bagaimanapun juga kau tidak tahu kenyataannya. Saranku, bertemulah sekali lagi dengannya dan tanyakan langsung. Paling tidak tentang malam itu saja. Lalu tentang kenyataannya nanti, itu semua keputusanmu. Come on,at least do it for me! Dari ceritamu, sepertinya dia itu pria one of a kind yang sudah sangat langka di Jakarta ini.’ Kata Martha. Memang benar apa yang Martha katakan. Aku memang masih sedikit penasaran pada Angga. Karena semenjak Aku melihat dia di lobby itu, Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tentu saja Aku tidak tinggal diam di kamarku, toh dia sudah tahu di kamar mana Aku menginap dan Aku tidak mau dia mendatangiku. Jadi Aku berjalan-jalan seharian di seputar kota. Berbelanja aneka aksesoris dan kerajinan tangan khas Bali di Jalan Poppies, Ubud atau Pasar Seni Sukawati, mencoba berbagai macam restoran di Legian Street, pergi ke gallery lukisan. Mencoba berbagai macam spa. Apapun. Selama tidak kembali ke hotel yang memungkinkan Aku bertemu dengannya lagi. Pada hari kepulanganku Aku juga check out pagi-pagi sekali dan menunggu pesawatku di airport dan menghabiskan sisa uangku di duty free shop. Bukannya bermaksud menjadi pengecut atau apa. Hanya saja Aku sedang tidak ingin memulai suatu drama. Jadi Aku memutuskan lebih baik menghindarinya saja saat itu dan seperti biasa, penyesalan selalu datang belakangan.

‘hmm…walaupun Aku ingin. Aku tidak bisa.’ Kataku sambil melihat jam tanganku dan membuka rak sepatu. Aku mengambil sepasang rubber flat merah Sigerson Morrison-ku sebagai warna kontras untuk shirt katun putih Liz Claiborne dan jeans acid wash Miss Sixty serta kalung batu-batuan yang sempat kubeli di Bali yang saat ini sedang kupakai.

‘Kenapa?’ tanya Martha yang menyadari gelagatku, sekarang menaruh gelas bekas guava juice-nya di wastafel dan membereskan tote bag Louis Vuitton-nya. Satu hal yang berbeda pada selera berbelanja kami. Dia lebih menyukai barang-barang bermerk terkenal seperti Prada, Gucci, Louis Vuitton dan sebagainya. Sedangkan bagiku Mango atau Debenhams sudah cukup. Toh, aku lebih mementingkan kenyamanan daripada merk. Bahkan waktu kuliah dulu, aku sering hunting baju vintage di Pasar Senen. Yang sering diomeli oleh Martha kalau sampai ketahuan karena ia sama sekali tidak suka pada sesuatu yang tidak higienis.

‘Karena…’ Aku mengambil kunci mobil dan menutup pintu kamar. ‘…Aku tidak mengetahui sedikitpun tentang dia.’ Jawabku menghela nafas sambil meminta Martha memilih kunci mobilku atau dia sendiri. Mobilku.

‘Maksudnya?’ tanya Martha. Sekarang kita berdua sudah berada diluar, Aku mengunci pintu apartmentku lalu bersama Martha menuju ke parking lot. Meminta tolong pada satpam yang bertugas untuk membukakan gerbang pintu masuk.

‘Dari berjam-jam kita mengobrol malam itu, Aku tidak tahu apapun kecuali kalau dia bernama Angga dan kopi favoritnya adalah mocca espresso dari Starbucks. Intinya, We practically never talk about our personal lives.’ Aku tersenyum getir pada Martha. Kami berdua masih berdiri di sisi mobil. Menungguku membunyikan alarm kunci.

‘Oh great.’ Kata Martha datar, membuka pintu dan masuk ke dalam.

22 January 2009

Strangers in The Night

Dua jam kemudian, pesawat yang kutumpangi landing di airport Ngurah Rai, Bali. Seperti yang sudah-sudah, sebagai penumpang first class Aku mendapat prioritas utama untuk keluar dari pesawat. Sebelumnya, Aku hanya ingin memilih acak di hotel mana Aku akan menginap. Toh ini hanyalah perjalanan selama tiga hari dua malam, Aku tidak peduli dimana Aku akan menginap. Karena Aku pasti akan lebih banyak menghabiskan waktuku di luar. Tapi Martha mencegahku melakukannya,

‘Untuk apa kau memesan first class kalau ujung-ujungnya disana kau hanya akan menginap di hotel yang tidak jelas.’ Kata Martha minggu lalu ketika ia datang ke kantorku untuk makan siang bersama. Kami biasa melakukannya, terutama kalau Aku butuh pertolongan saat Ibuku menelepon untuk mengajakku makan siang.

‘Tidak separah itu Martha. Kau tahu Aku khan, Aku lebih suka spontanitas dan sedikit petualangan.’ Aku mengatakannya sambil mengedipkan mataku. Sebenarnya Aku sedang menggodanya, dia paling tidak bisa menghadapi sesuatu yang spontan misalnya. Dasar planner addict, pasti sebentar lagi ia akan histeris karena membayangkan bagaimana rasanya melakukan sesuatu tanpa rencana dan tujuan. Sangat bertolak belakang denganku. Si pencinta spontanitas dan selalu penasaran dengan hal-hal baru. Tapi anehnya kami sangat cocok dan nyambung. Bisa dibuktikan dari persahabatan kami yang sudah berlangsung selama, I don’t know, maybe 10 or 11 years? Tapi mungkin itu karena aku sebenarnya sering menemukan masalah ketika menerapkan spontanitasku itu, dan Martha, my problem solver! Always ready with all of her solution! God, sekarang aku sadar betapa aku selalu bergantung padanya. Tetapi tentu saja aku juga membalas kebaikannya itu. Dengan caraku sendiri tentunya. Yaitu ketika Martha merasa jenuh dan memerlukan sedikit rasa excitement dalam hidupnya, here i am! Ready to give her an adventurous life. Believe me, mungkin aku satu-satunya orang yang pernah melihat Martha begitu mabuk dan berdansa salsa semalaman bersama dua(!) orang pria di sebuah klub Latina. Atau saat ia menerima tantanganku untuk mencium mantan pacarnya sehari sebelum pelaminannya! Tapi Sayangnya, sejak ia menikah, kami sudah jarang sekali melakukannya. Tentu saja!

‘Bukan saatnya untuk hal seperti itu! Aku punya firasat. Dalam perjalananmu kali ini, kau akan mengalami sesuatu dan itu dapat merubah hidupmu selamanya.’ Ucapan Martha yakin. Aku menatapnya heran.

‘Kau terlalu banyak menonton serial drama.’ Kataku. Teringat akan serial Desperate Housewives yang selalu diikuti oleh Martha.

‘Apalagi yang akan kau lakukan? Bila kau punya sepasang balita kembar di rumahmu dan selain itu kau juga harus memasak makan malam dan membersihkan rumah untuk menyambut suamimu pulang bekerja. Itulah satu-satunya hiburanku.’ Jelasnya menggebu-gebu. Aku hanya tertawa mendengarnya. Tentu saja dia tidak benar-benar bermaksud seperti itu. Martha sangat mencintai suami dan anak-anaknya. Ia menikah dengan Krisna, teman kuliah kami dan mereka dianugerahi tidak hanya satu tapi dua anak yang lucu dan menggemaskan. Well, tepatnya kalau mereka sedang tidak mengacak-acak seisi rumah saja. Yang selalu mereka lakukan tiap hari dan membuatku teringat,

‘Oh ya, kemana mereka? Maksudku Alya dan Sheila.’ tanyaku sambil membereskan file-file pekerjaanku di meja sebelum siap untuk pergi makan siang. Martha memang selalu datang lebih awal, dia tidak suka terlambat. Sifatnya. Aku juga setuju dengan keputusannya untuk menamakan anak kembarnya sedikit berbeda. Mengapa para orangtua banyak menamakan anak mereka dengan Dina&Dini, Bagus&Bagas dan semacamnya merupakan suatu pertanyaan tak terjawab.

‘Di rumah mertuaku.’ Jawabnya singkat, karena ia sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan telepon genggamnya.

‘Kau mau menghubungi siapa?’ tanyaku lagi. Martha hanya memberikan tangannya, tanda kalau Aku harus diam. Setelah beberapa saat, ia pun berbicara lagi.

‘Selamat siang, Hard Rock Hotel Bali? Saya ingin reservasi untuk jumat minggu ini…’ Ternyata Martha menelepon salah satu hotel berbintang lima di Bali yang sangat terkenal itu dan juga dengan letaknya yang sangat strategis menghadap ke Kuta’s famed surfed beach itu. Dan atas jasa Martha juga, saat ini Aku hendak mencari orang yang akan menjemputku dari hotel di pick up area bandara. Karena Martha tidak hanya memesan kamar dengan rate Premium Deluxe Room tapi juga mengatur transportasiku disini. Tadinya Aku mau diikut sertakan dalam tour, tapi Aku bersikeras untuk berwisata seorang diri. Buat apa jauh-jauh berlibur ke Bali, bila akhirnya kau hanya bisa mengikuti jadwal yang sudah dipastikan dan tidak bisa sepuasnya berjalan-jalan.

BRAAK!!

Pada saat Aku masih berjalan dengan menarik koperku, tiba-tiba ada seorang pria yang menabrakku dari belakang sehingga Aku terjatuh dan barang-barang dari tote bag beige Longchamp-ku sekarang sudah berserakan di lantai. Brengsek! Umpatku refleks. Aku menanti orang yang menabrakku itu untuk membantuku berdiri dan mengambilkan barang-barangku. Tapi, pria itu malah berlalu tanpa sedikitpun menoleh dan meninggalkanku sendirian. Minta maaf pun tidak! Benar-benar brengsek! Makiku lagi dan umpatan-umpatan lainnya. Secepatnya, Aku bereskan tasku sampai ada seorang satpam yang ikut membantu dan berniat meninggalkan tempat itu segera. Aku tidak mau mood-ku untuk liburan jadi hilang hanya karena masalah kecil seperti ini. Kulanjutkan mencari orang yang ditugaskan menjemputku.

Ah itu dia. Ada seseorang yang memegang papan bertuliskan namaku. Andita Irvine.

‘Ms. Andita?’ tanya pemuda itu ketika Aku mendekatinya. Layaknya dari hotel berbintang lima, supir mereka menggunakan seragam safari berwarna biru gelap.

‘Benar.’ Jawabku singkat seraya menyerahkan koperku ketika dia mengulurkan tangan untuk memintanya.

‘Kalau begitu mari ikut dengan Saya. Kendaraan untuk anda sudah dipersiapkan di depan.’ Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Ketika Aku sampai di luar dan pria tadi membukakan pintu mobil untukku, Aku benar-benar terkejut. Aku langsung mengingatkan diriku untuk membelikan oleh-oleh untuk Martha. Lihat apa yang dia minta sebagai kendaraanku. Mercedes S 320. Hitam.

‘Martha, nggak terlalu berlebihan nih?’ tanyaku pada Martha ketika Aku sudah sampai di kamar hotel. Sepuluh menit yang lalu, Aku disambut oleh seorang petugas hotel yang mengalungkan untaian bunga pada leherku dan mengantarkanku ke meja receptionist untuk check in. Sekarang, hal pertama yang kulakukan di kamar adalah menelepon sahabatku Martha.

‘Ternyata kau sudah sampai? Bagaimana tadi perjalanannya?’ tanya dia balik tanpa memperdulikan pertanyaanku.

‘Sempurna. Apalagi yang kau harapkan dari first class dan penjemputan di airport dengan Mercedes?’ kataku sambil menegaskan pada kata terakhir. Kecuali insiden kecil di bandara tadi, kataku dalam hati. Tidak mau menceritakannya pada Martha, karena sebenarnya hal itu sedikit memalukan.

‘Mercedes? Padahal Aku meminta mereka menjemputmu dengan Bentley.’ Martha
menjawabnya dengan nada pura-pura kecewa.

‘Jangan bercanda. Kalau benar-benar Aku dijemput dengan Bentley, Aku lebih baik kabur dengan taksi dan menginap di Pollies. But, thanks anyway. Buat semuanya.’ Kataku sungguh-sungguh.

‘Ok. Have fun dan jangan sampai kau sungguh menginap di pollies ya. Karena disana tidak higienis. Kau ingat bagaimana Krisna dulu khan?’ katanya dengan nada keibuannya yang tegas. Aku tertawa mendengarnya. Dia memang sangat memperhatikanku dan Aku juga tidak lupa cerita Krisna ketika di Pollies dengan para bule-bule itu, waktu kita masih kuliah. Aku, Martha, Krisna dan beberapa teman kami yang lainnya berlibur ke Bali pada saat liburan semester. Saat itu, kami ingin melakukan kegilaan yang tidak masuk akal. Akhirnya, Krisna yang kalah undian harus mengikuti perintah kami, yaitu berjalan setengah bugil di pollies dan harus menggoda bule-bule backpackers yang ada disana. Sialnya bagi Krisna kegilaan itu berakhir dengan ciuman maut dari salah satu bule yang digodanya. Kenapa sial? Karena ternyata bule yang dicium oleh Krisna itu seorang pria! Pria itu sedang mabuk berat dan tiba-tiba menggamit lengan Krisna dan kenalah dia. Hah, benar-benar tidak terlupakan. Aku tersenyum geli mengingatnya.

‘Sip. Kalau begitu sampaikan salamku pada Krisna dan si kembar ya. Aku akan meneleponmu lagi besok. Bye.’ Aku mengakhiri pembicaraan dan mematikan telepon genggamku. Nah Andita, apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku melihat jam tanganku. Pukul 15.40, berarti 16.40 untuk Wita. Sudah cukup sore, tapi masih terlalu cepat untuk makan malam. Akhirnya kuputuskan berjalan-jalan menyusuri Pantai Kuta akan menjadi kegiatanku sore ini. Aku mengganti Oasis–red and white stripe–sweater dan skinny jeans-ku dengan mini dress chiffon berwarna turquoise dan syal pashmina krem. Tidak ketinggalan sunglasses dan thongs (sandal jepit) Havaianas sebagai pelengkapnya. Aku pun turun ke lobby hotel dan berjalan kaki menuju pantai.

Oh Shit! Itulah kata pertamaku ketika sampai disana. Bagaimana tidak, padahal bukan musim liburan, tapi banyak sekali berseliweran pasangan kekasih yang bermesraan dimana-mana. Yap, tepat sekali seperti yang kuinginkan. Pikirku sarkastik. Sendirian di pantai dan bukannya dengan pasangan, tetapi malah menyaksikan orang lain bermesraan. Hmm…lalu apa yang mau kau lakukan Andita? Balik ke hotel? Tidak..tidak. Itu hanya akan membuat liburanmu semakin sia-sia saja. Lebih baik Aku menunggu waktunya makan malam dengan melihat sunset dan tidak mempedulikan scene yang ada di sekelilingku. Aku berdiri sambil memandang ke lautan dan menikmati hembusan angin lembut yang menerpa wajah dan tubuhku. Membuat dress-ku melambai-lambai ringan tertiup angin. Ombak-ombak sudah semakin tenang, walaupun masih banyak dimanfaatkan oleh para surfer bule yang kulihat belum puas juga menjajal kemampuan mereka dan terus mencari the perfect wave dengan kulit gosong kecoklatan yang basah dan diam-diam kunilai cukup seksi apalagi sosok mereka yang berlatarkan temaram senja. Kemudian, pada saat Aku masih asyik memperhatikan ragamnya aktivitas di pantai sore itu, Aku menangkap sesosok pria tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku memicingkan mataku untuk melihatnya lebih seksama. Dilihat dari paras dan postur tubuhnya tidak salah lagi itu adalah pria yang menabrakku di airport! Memang sih pertemuan kami tadi hanya sekilas namun Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Terutama Aku akui karena pria itu lumayan menarik dengan tubuh yang atletis, sedikit seksi dan wajahnya yang luar biasa handsome! Tapi tetap saja brengsek! Makiku dalam hati. Secara tidak sadar Aku terus memerhatikan pria itu. Dari raut wajahnya yang walaupun tenang itu masih dapat terlihat muram, sepertinya ia sedang mengalami suatu masalah. Tapi Aku tidak tahu apa itu yang memang wajar, Aku khan tidak mengenalnya. Hanya saja, ada sesuatu pada dirinya yang membuat Aku tertarik dan tidak bisa melepaskan pandanganku. Celakanya, tiba-tiba pria itu menengok ke arahku dan memergoki Aku yang dari tadi terus mengamatinya! Aku langsung berpikir cepat dan bermaksud untuk segera memalingkan wajahku, tapi sebelum Aku bisa bertindak apa-apa, pria itu sudah tersenyum sekilas dan pergi meninggalkan pantai. Aku hanya terpaku di tempatku berdiri. Sekarang Aku benar-benar merasa seperti orang tolol. Bagaimana tidak, Aku telah dibuat malu dua kali! oleh orang yang sama! Yang membuatku menjadi beringsut kesal, tapi tidak tahu harus menyalahkan siapa. Huh, Aku pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Mencoba melupakan peristiwa dan pria tadi. Berharap tidak ada lagi kejadian konyol hari ini terutama yang berhubungan dengan pria tadi! Tapi ternyata, kejadian-kejadian ini tidak berhenti sampai situ saja.

Menunggu untuk membuktikan perkataan Martha tempo hari. Yang biasanya selalu menjadi kenyataan.

---

‘Permisi Miss. Ini segelas rose wine untuk anda.’ Seorang waiter mengantarkannya padaku. Aku memandangnya heran.

‘Tapi Saya tidak memesannya.’ Kataku mengkonfirmasikan kesalahpahaman ini.

'Ya benar. Tapi ini adalah compliment dari pria di meja itu.’ Si waiter menunjuk seorang pria yang sekarang sedang mengangkat gelas wine-nya sendiri seperti mengajak toast ke arahku. Yang ternyata pria itu adalah pria tadi! Pria yang sudah membuatku malu dua kali hari ini. Aku hanya tersenyum kikuk ketika tiba-tiba pria itu berdiri dan menghampiriku yang entah kenapa, cukup membuat jantungku berdetak semakin cepat. Apa yang terjadi Andita? Kau khan sudah berpengalaman dalam hal seperti ini tapi mengapa untuk pria yang satu ini kau jadi salah tingkah?

‘Maaf, apa Saya mengganggu anda?’ Pria itu mengawali pembicaraan dengan suara penuh percaya diri.
‘Tidak. Tidak sama sekali.’ Jawabku kaku.
‘Kalau begitu bolehkah Saya bergabung dengan anda?’ tanyanya lagi. Masih dengan sikapnya yang luwes dan tidak terpengaruh oleh kekakuanku. Yang menurutku justru membuatnya diatas angin.

‘Hmm..Boleh saja.’ Refleks kuucapkan. Sial, pikirku. Biasanya Aku bisa mengontrol hal seperti ini dengan menolak halus dan mencoba mengulur waktu yang walaupun bila nantinya kami tetap duduk bersama, tapi tidak membuatnya memegang charge yang akan membumbungkan egonya. Ya, ego seorang pria. Tapi, seperti yang tadi sudah kukatakan, ada sesuatu pada pria ini yang membuatku terhipnotis dengan pesonanya. So…This one is my bad.

‘Nama Saya Angga. Anda menginap di hotel ini juga?’ Katanya memperkenalkan diri setelah duduk di kursi dan sekarang berhadapan denganku. Sorot Matanya benar-benar gelap! Membuatku seperti terbuai dan ingin menyusuri sisi misterius pada dirinya. Tapi Aku tidak mau terkecoh lagi dengan permainan ini. Saatnya untuk calm down.

‘Andita, dan benar Saya menginap disini. By the way, thanks for the wine.’ Jawabku tersenyum anggun dan mengangkat gelas wine-ku sambil menatapnya lekat lalu segera memalingkan wajahku. Mencoba membuatnya penasaran dan mengeluarkan pesonaku sendiri untuk memperbaiki kesalahanku tadi. Ingat kau harus bersikap sedikit tak acuh dan dingin. Walaupun ia setampan Matthew McConaughey, bagaimanapun juga, dialah yang menghampirimu duluan. Jadi bersikaplah seperti seorang Lady agar kau tidak diremehkan dengan cara sikap duduk yang anggun dan menunjukkan cara makanmu yang berkelas dan tunggulah ia memulai pembicaraan. Aku mencoba wine yang ia berikan,...not bad. In fact, it’s a one great wine. Hmm, this man got a taste.

‘Bisnis?’

‘Maaf?’

‘Wanita secantik anda tidak mungkin berlibur sendirian ke pulau Bali yang romantis seperti ini khan? Saya yakin anda pasti sedang melakukan perjalanan bisnis.’ Tembaknya. Hmm, pertanyaan yang cukup menjebak. Benar-benar profesional. Pikirku. Pasti banyak wanita yang mudah terpancing oleh rayuan dengan kata-kata seperti itu. Pertama tanyakan tujuan bepergian. Kalau jawabannya sesuatu yang menjurus pada jawaban kalau si wanita juga single berarti itu isyarat untuk go for it dan berakhir dengan seks! Tapi jika si wanita sudah memiliki pasangan, maka ia tinggal walk away dan meninggalkan kesan sebagai pria yang lepas dari genggaman. Kecuali kalau si wanita juga sedang mau bernakal-nakal sedikit. Tapi biasanya jarang pria mau menanggapi, karena mereka terlalu malas untuk berurusan dengan hal-hal complicated seperti itu. Hah, Dasar pria!

‘Sebenarnya tujuan Saya kemari memang untuk berlibur. Tetapi Saya tidak mengharapkan untuk melakukan diluar itu.’ Jawabku tegas. Kurang tepat, karena sesaat kemudian ia tertawa.

‘Maaf Saya tidak bermaksud apa-apa. Tenang saja, Saya juga…ingin berlibur. Melepaskan stress dari semua masalah serta hiruk pikuk di Jakarta dan Bali the goddess island ini sepertinya merupakan jawaban yang tepat. Bukankah begitu?’ ia tersenyum dan meminta persetujuanku. God, senyumnya itu! Seandainya Aku bukan seseorang yang menjaga citraku sebagai wanita terhormat, Aku akan mendorong tubuhku ke arahnya dan mengecupya tepat di bibir. Tapi tentu semua hanya khayalanku dan daripada melakukan kegilaan itu, Aku membalas senyumannya. Senyuman penggoda.

‘I Agree with that. Pada saat kau asyik bekerja rasanya tidak sadar semuanya berlalu begitu cepat dan kau sudah menjadi workaholic. Tapi saat kau tersadar kalau kau hidup di dunia nyata. Tubuhmu sudah tidak sanggup lagi dan itulah waktu dimana kau memutuskan kau harus berlibur dan melepaskan semua stress yang sebenarnya sudah menumpuk di kepalamu.’ Kataku. Langkah kedua saat mengobrol dengan pria yang baru kau kenal, tunjukkan bahwa kau lebih pintar dari yang mereka kira, sehingga mereka tidak akan mencoba mempermainkanmu.

‘Tepat sekali. Seperti itulah yang kurasakan.’ Ia mengangguk tanda setuju. Matanya tetap tertuju kepadaku. Membuat Aku bergidik merasakan pesonanya yang memabukkan itu. I don’t want to lose this night! Putusku. Toh juga, Aku single dan ada pria menarik yang membuat penasaran sedang bersamamu saat ini. So, definitely worth a shot.

Akhirnya malam itu, kami berdua habiskan dengan makan malam di Splash Bistro (tentunya. Yang sangat mendukung suasana karena cahaya yang temaram dari poolside restaurant ini.) dan berjam-jam (tanpa kusadari) berjalan-jalan di area hotel dan pantai sambil membicarakan hal-hal sepele. Sama sekali tidak menyinggung apa pekerjaan kami, tempat tinggal, love life dan sebagainya. Yap, hanya hal-hal tidak penting yang justru membuatku menjadi rileks dan nyaman serta tidak seperti yang kukira, Aku menemukan banyak sekali kecocokan dengannya. Misalnya, kami membicarakan berbagai filosofi-filosofi hidup, mengkritik gaya hidup di Indonesia yang sudah semakin tidak terkontrol dengan wild life-nya, Jakarta yang semakin panas dan macet! Sampai bagaimana kami berdua ternyata sama-sama pencinta lagu jazz (yang sempat kulupakan karena mengingatkanku pada Ferdi) sampai thin pizza dengan topping asli pepperoni tanpa tambahan aneh-aneh (paprika dan nanas?! Atau seafood!) dan kenyataan yang membuatku sedikit terkejut bahwa seorang pria seperti Angga juga gemar mengkoleksi dan membaca buku. Serius. Pria masa kini? Kemampuan mereka untuk menganalisis pertandingan sepak bola atau Formula 1 mungkin bisa diacungi jempol, tapi membaca buku? Kurasa tidak. Namun ketika dia menjelaskan buku yang dia baca hanyalah mengenai autobiografi orang-orang terkenal atau 101 cara untuk menjadi sukses dan semacamnya membuatku semakin terkejut. Ternyata masih ada pria yang seperti itu. Biasanya mereka terlalu tinggi menilai pride diri mereka sendiri untuk menambah pengetahuan mereka dengan membaca buku sehingga mereka mengasumsikan bahwa mereka itu lebih pintar dari wanita dan menetapkan hal itu di otak mereka. Tidak sadar, tumbuh rasa kagum dan ketertarikan yang semakin dalam olehku pada Angga. Tapi tentu saja Aku tidak menunjukkannya. Masih terlalu dini. Pikirku.

Hari semakin larut, tapi kami masih tetap saja mengobrol tiada habisnya. Sampai akhirnya, rasa kantuk mulai mengalahkan kami berdua. Sewaktu Aku melihat jam tanganku, hmm…pantas. Sekarang sudah jam 3 pagi. Tadi pagi Aku bangun lebih cepat untuk mengirim fax beberapa pekerjaan yang kukerjakan semalaman, lalu pergi ke rumah orangtuaku di daerah Bintaro dari apartmentku di kebayoran ditambah penerbangan pesawat dan belum istirahat. Tentu saja Aku merasa lelah.

‘Hah, belum pernah Aku merasa serileks ini. rasanya begitu tenang dan damai bukankah begitu?’ tanya Angga menghela nafas sambil melihat padaku meminta persetujuan. Tapi, belum
sempat kujawab karena ia melanjutkan kata-katanya lagi.

‘Sepertinya kita berdua sama-sama mengantuk sekarang’ Kata Angga atas reaksinya melihatku yang sudah menguap untuk kesekian kalinya. Yah, Aku tidak menutup kenyataan yang satu ini. Kali ini sepertinya mataku tidak mau berkompromi lagi. Kepalaku juga terasa berat.

‘Yeah, sepertinya begitu. Aku belum tidur cukup dari kemarin. Urusan pekerjaan.’ Aku melambaikan tanganku, tanda hal itu sudah biasa.

‘Hmm, Ternyata kau juga tipikal wanita pekerja keras di lain sisi dari menariknya kehidupanmu. Baiklah mademoiselle, sebaiknya kau kembali ke kamarmu sekarang. Biar kuantar.’ Angga menawarkan. Aku sudah tidak sanggup menolak lagi dan hanya mengangguk pelan. Sepertinya tubuhku sudah mulai sadar dan tidak mampu untuk bertahan lagi. Kemudian ketika Aku sudah sampai di depan kamarku, membuka pintu lalu berbalik dan berniat untuk mengucapkan terima kasih dan selamat malam pada Angga. Tiba-tiba ia menarik pelan tubuhku ke arahnya dan mengecup bibirku. Lembut dan berkesan. Lalu mengucapkan selamat malam dan meninggalkanku sendirian berdiri disitu. Aku hanya bisa termenung dan beberapa detik kemudian masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhku ke atas kasur dan memikirkan kejadian barusan. Wow, okay! Itu sedikit membuatku terkejut. pikirku. Tapi, Aku sudah terlalu mengantuk untuk bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi barusan dan tidak lama setelah itu Aku sudah tertidur dan terbuai ke alam mimpi.

Esoknya Aku terbangun cukup pagi. Damn! Masih jam 8 pagi. Padahal biasanya Aku tidak mudah terbangun bila sudah tertidur pulas. Tapi, memang kenyataannya tidurku tidak terlalu nyenyak. Aku terus teringat dia! Angga. Tentu saja tadi malam pada saat dia mengantarkanku ke kamar, Aku tidak berharap dia akan masuk dan kita melakukan seks. Nope. Mungkin Aku minum alkohol, clubbing sekali dua kali tapi Aku bukan penganut free sex. Dua hal yang tidak pernah Aku lakukan, itu dan drugs. Aku lebih memikirkan bagaimana semalam kita menghabiskan waktu. Serius, semenjak bersama Ferdi Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini lagi pada seorang pria. Tapi, Aku belum mau memutuskan bahwa Aku menyukai dia. Tidak secepat itu. Bagaimanapun juga semuanya itu membutuhkan proses dan one night stand (bukan dalam arti tanda kutip. Tapi pada kenyataannya kami berdua memang terbangun semalaman) kemarin belum cukup. Setidaknya Aku masih ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi Aku terlalu takut kalau ini hanyalah perasaan sepihak saja. Maksudku, Aku tidak mau mengakui padanya apa yang kurasakan pada saat ternyata dia berpikir sebaliknya. Lagipula pembicaraan kami semalam tidak ada yang penting. Tidak ada yang menyangkut tentang perasaan misalnya. Jadi kuputuskan untuk mandi. Mencoba untuk melupakan dia dengan mandi di bawah shower selama beberapa menit untuk mendinginkan pikiranku dan berniat untuk mengisi perut dengan sarapan di bawah agar Aku bisa berpikir dengan baik. “Food and cold shower always works when you need to think of something.” Menurutku.

Lalu, setelah Aku bersiap-siap dan sampai di lobby hotel, disitulah Aku menemukan dia!

Yah, Angga!

Tapi shock-ku bertambah saat Aku menyadari kalau dia tidak sendiri! Melainkan sedang berpelukan dengan seorang wanita. Tidak perlu berpikir lama, Aku segera menyingkir dari tempat itu. Tidak mau khan terlihat menangkap basah pria yang baru kau temui semalam dan kenyataan bahwa dia baru saja mencampakkanmu secara tidak langsung dengan bermesraan dengan wanita lain! Penasaran, Aku melihat dia mencium wanita yang dipeluknya tadi dan mengantarnya ke depan lobby. Great! Sekarang sudah ada satu kesimpulan di otakku. Jadi, setelah menghabiskan waktu semalaman denganku, sudah ada wanita lain yang menunggu di kamarnya begitu? Tapi tentu saja Aku tidak mengetahui detail yang sebenarnya. Mungkin saja dia pergi lagi dan tidak pernah masuk kamar. Tapi, peduli amat!

Bukan urusanku lagi sekarang.

Buat apa Aku menghabiskan energiku untuk memikirkan apa yang dia lakukan dengan wanita lain! What am I thinking? Seolah-olah dia berbeda dari pria-pria yang selama ini kukenal dan ternyata dia sama sekali tidak berbeda. Gosh, daripada Aku terus senewen berdiri disini berpikir yang tidak-tidak dan mengambil resiko terlihat olehnya, Aku memilih kembali ke kamar. Memesan breakfast Whole grain toast with eggs dan orange juice lewat room service dan mandi lagi! Tapi daripada shower, sekarang Aku memilih berendam air hangat dalam bath tub ditambah lavender aromatherapy body bath dengan harapan semoga pikiran tentang Angga bisa menghilang dari otakku saat Aku memendamkan kepalaku ke dalam air. Aku benar-benar membenci perasaanku saat ini. Mungkin Martha tetap benar, akan ada kejadian yang merubah hidupku selamanya. Yaitu penilaianku kepada pria akan selalu sama dan Aku tidak berniat untuk merubahnya kali ini. Huh, benar-benar bukan yang kuharapkan akan terjadi pada saat Aku mengambil liburan bukan?! Dan bagaimana mungkin kau Andita, seorang wanita yang mementingkan kecerdasan dan harga diri bisa dibodohi oleh pria seperti Angga dalam satu malam hanya karena kau merasa cocok dengannya. It Sucks! dan Aku berniat untuk segera melupakannya.

Semuanya.

And I guess…What happens in Bali, stays in Bali…

20 January 2009

The Night We Called it a Day

Saat ini Aku sedang berada di airport Soekarno-Hatta. Tidak sabar rasanya membayangkan dua jam lagi Aku akan sampai di Bali! Yap, Pilihan yang tepat untuk melupakan semua masalah dan pikiran yang membayangiku di Jakarta. Well, sebenarnya kuakui akulah yang membuat diriku sendiri seperti itu. Dua belas jam kuhabiskan di kantor (kecuali pada saat Aku harus menemui klien, Aku akan menghabiskan waktuku di luar) sampai-sampai tidak ada waktu lagi untuk bersosialisasi dengan teman-temanku. Dan bila sudah memasuki weekend, karena terlalu lelah bekerja, Aku lebih memilih untuk bermalas-malasan di apartmentku yang mungil, memesan pepperoni pizza ekstra keju-nya Fast Eddie’s atau sebungkus coklat Maltesers yang kubeli di The Cocoa trees, menghabiskan novel by Allison Rushby, Ros Reines, atau novel-novel Red Dress Ink lainnya yang belum sempat kubaca atau mungkin menonton DVD drama romantic comedy koleksiku. Favoritku adalah apalagi kalau bukan “You’ve Got Mail”! Seperti yang Susan Wloszczyna dari USA TODAY katakan, “Tom Hanks and Meg Ryan should win the Nobel Prize for chemistry!” and I absolutely agree with that! Selain itu pilihan favoritku yang lain adalah “Sleepless in Seattle” (dimainkan oleh mereka berdua juga tentunya!), dan film-film lainnya yang dimainkan oleh Sandra Bullock, Kate Hudson, dan pria favoritku yang kunilai sebagai the sexiest man on earth, Johnny Depp! Tapi, kalau Aku sudah terlalu bosan dengan semua kegiatan itu, biasanya Aku langsung pergi tidur di kasurku yang empuk atau pergi ke gym untuk yogalates setelah mengecek kulitku yang sudah mulai mengendur dan perlu dikencangkan lagi atau sekedar bermain squash dengan ayahku. Tentu saja bila ia juga sedang senggang. Kalau saja – sahabatku sejak masa kuliah dulu – Martha, tidak menyarankan (tepatnya memaksa) Aku untuk mengambil cuti beberapa hari dan berlibur, pasti saat ini Aku masih berkutat di kantor menyelesaikan semua pekerjaan-pekerjaan yang terus berdatangan.

Setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga Aku mengambil liburan saat ini. Selain untuk melepas stress karena pekerjaan, tapi Aku juga menghindar dari Ibuku. Ibuku yang setiap hari selalu merecokiku dengan telepon-teleponnya untuk mengajakku makan siang dan menjodohkanku dengan pria-pria eksekutif yang sudah mapan. Gila! Aku benar-benar tidak tahu darimana ia bisa menemukan mereka. Mario, Tommy, Joe dan masih banyak lagi para pria yang tidak Aku ingat namanya. Memang sih maksudnya baik dan bukan berarti tidak ada yang menarik dari mereka. Malahan mereka lebih cocok ada di cover majalah dengan celana renang speedo yang seksi dan berpose keluar dari kolam renang seperti yang biasa Aku lihat di majalah Men’s health daripada memakai kemeja dan dasi seperti layaknya eksmud biasa. Setiap kali menemui salah satu dari mereka (dan bila Aku sudah kehabisan alasan untuk tidak makan siang pada ibuku), Aku selalu berpikir kalau diluar sana pasti banyak sekali wanita-wanita yang ingin menjadi kekasih mereka dan apa ini? Mereka malah makan siang bersama Aku yang sama sekali tidak menaruh perhatian pada mereka. Biasanya setelah melihat sinyal ketidaktertarikanku pada mereka, sebagai seorang gentleman mereka akan menarik diri. Mundur. Berbasa-basi untuk suatu saat bertemu lagi dan seperti terkaanku tidak akan ada lagi kabar dari mereka. Tapi, pasti ada saja yang mencoba. Misalnya waktu itu ada Benny, seorang akuntan di suatu perusahaan otomotif menelepon (tepatnya meninggalkan pesan, karena seperti yang kubilang tadi, Aku menghabiskan banyak waktuku di kantor) dan mengajakku makan malam. Tapi waktu itu Aku sedang sangat lelah akibat lembur dan menyetir sendirian di kemacetan di kuningan (kena macet di Jakarta? Hell. Yes!) yang membuatku stuck di depan kantor selama 2 jam! Aku membalas teleponnya dengan mengatakan alasan apa saja yang terlintas saat itu, yang kebanyakan tidak bisa Aku ingat dan langsung pergi tidur. Suatu saat pernah Aku salah meninggalkan pesan pada Ibuku, yang membuatku sekarang lebih berhati-hati lagi untuk tidak salah sambung. Karena pagi harinya Ibuku menelepon yang membuatku harus memegang gagang teleponku sedikit menjauh dari telingaku karena ia berteriak ‘Apa maksudmu sakit cacar nona?! Kau sudah kena waktu SD!!’ dan sisanya yang tidak terdengar karena Aku meninggalkan teleponku di atas meja dan meneruskan membuat chicken sandwich with ginger and shallot sauce untuk sarapanku saat itu.

Well, sebagai bentuk rasa percaya diriku Aku tidak menyalahkan mereka yang tetap tertarik padaku. Walaupun pola makanku yang tidak selalu sehat (junk food itu kepuasan hidup!) dan hanya berolahraga bila kurasa perlu, Aku cukup memperhatikan penampilanku. Pergi ke salon 2 minggu sekali untuk sekedar hair spa dan manicure bersama Martha, shopping beberapa merk clothing favoritku seperti BCBG Max Azria, Oasis Debenhams atau Zara (Aku tidak begitu suka merk high class seperti Prada atau Louis Vuitton. Terlalu mewah. Tapi dengan merk-merk tadi, setidaknya Aku tidak terlalu out of fashion) dan sebagainya tetap kulakukan. Selain itu yang paling Aku syukuri adalah wajah dan postur tubuh langsing dan tinggi keturunan Ibuku yang dulu pernah menjadi model catwalk terkenal dan berhenti karena menikah dengan ayahku. Jadi, tidak ada salahnya kalau Aku cukup bangga dengan wajahku yang cukup dipoles dengan bedak dan sedikit mascara untuk menonjolkan mataku yang berwarna coklat hazelnut, salah satu dari yang diturunkan dari Ayahku yang campuran Inggris selain rambutku yang coklat alami dan tulang pipi tinggi serta kulit seperti hasil perfect tan dari Ibuku yang asli Jawa pada saat semua orang berusaha untuk melakukan fake tanning. Semuanya itu, adalah keberuntunganku. Karena adikku, Sylvie. Selalu merasa iri padaku akibat tubuhnya yang tidak begitu tinggi (dibandingkan denganku yang 177 cm ya. Adikku 168 cm. Saja.), tulang besar keturunan dari Ayahku yang membuatnya terlihat lebih subur, apalagi sekarang setelah melahirkan. Tetapi dengan rambut hitam legam yang indah dan paras yang sangat Indonesia dari nenek pihak Ibu yang kemungkinan besar akan selalu dipilih untuk mewakili tanah air apabila diikutkan pada pemilihan putri Indonesia atau semacamnya.

Lamunanku terhenti ketika Aku sudah sampai pada giliranku saat mengantri di konter Garuda untuk check in dan disambut dengan senyuman hangat dari petugas konter yang Aku yakin sudah ia lakukan sepanjang hari ini. Setelah memastikan mengambil window sit dan tidak ada bagasi, Aku keluar dari antrian. Mengangguk pada petugas yang mengucapkan selamat jalan, menarik koper samsonite-ku dan berjalan menuju ke boarding room. Sampai disana, Aku mengambil tempat duduk terbaik (menurutku. Depan TV dan tidak ada asbak di dekatku, sehingga tidak akan ada yang merokok. Aku sedang berusaha berhenti.) dan menunggu disana sampai saatnya masuk pesawat. Tidak seperti orang lain yang biasanya keluar lagi untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan terakhir pada keluarga mereka yang mengantarkan dan mengatakan akan merindukan mereka semua. Bah. Menurutku tidak sampai 5 menit, mereka akan segera melupakan keluarganya. Toh, ada sesuatu yang lebih menarik untuk dipikirkan, yaitu tempat tujuan mereka dan semua yang menanti mereka disana. Hal ini mengingatkanku pada satu tahun lalu. Yap, tepat satu tahun yang lalu, Aku mengantar kepergiannya. Ah Shit, perlukan kuceritakan sekarang? oh baiklah, Aku mengantarkan Ferdi. Yah, dia itu mantan kekasihku. Kami sudah berkencan selama dua tahun. Selama itu dan sudah banyak sekali kenangan-kenangan diantara kami dan impian-impian konyol untuk masa depan kami berdua. Well, itu biasa khan? Untuk pasangan seumuran kami, (bukan berarti Aku sudah terlalu tua! Waktu itu Aku masih 26 tahun.) banyak sekali rasanya yang ingin dicapai. Mempunyai rumah idaman, dua atau tiga anak, memelihara anjing golden retriever atau berangan-angan untuk travelling berdua saja ke tempat-tempat liburan eksotis seperti Thailand atau pulau Bahamas. Tapi tiba-tiba, BANG! Aku tahu yang kau pikirkan. Bukan itu. Bukan kecelakaan pesawat yang membuatku berpisah dengannya. Aku yakin sekarang ini ia sedang hidup bahagia di Amerika sana. Ha! Itulah “bang” tadi, Ferdi sang musisi jazz berbakat yang mendadak memutuskan untuk menjajalkan kemampuannya di Amerika. Aku masih ingat sekali kejadian hari itu, seakan baru kemarin.

Senin yang kutunggu-tunggu, Aku berencana pergi makan malam bersama Ferdi setelah weekend kemarin tidak bertemu karena ia harus tampil bersama band-nya yang beraliran jazz di Sierra Café and Lounge, Bandung. Aku sedikit lupa alasanku tidak ikut kesana, tapi Aku benar-benar ingat setiap kata yang ia ucapkan saat makan malam denganku saat itu. Kami bertemu di Marché, restoran favorit kami karena disitulah pertama kali kami bertemu. Saat itu (ketika makan malam, bukan saat pertama bertemu) ia sudah datang lebih dulu dan mengambil tempat duduk di lantai 2 di meja favorit kami. Aku melambai dari jauh dan menghampirinya.

‘Sudah lama?’ tanyaku pada Ferdi, duduk di sebelahnya dan mengecup pipinya.

‘Tidak Aku baru saja datang. Hei, Aku tahu kita baru bertemu dan sebagainya. Tapi Aku benar-benar tidak sabar untuk menceritakan sesuatu padamu.’ Ferdi tiba-tiba menggenggam kedua tanganku dan menghadap ke arahku dengan tatapan serius.

‘Don’t mind. Spill it out.’ Aku memainkan alisku dan menatapnya balik.

‘OK. Aku telah berpikir untuk…pindah ke New York.’ Deg! Ferdi mengatakannya dengan tatapan berbinar-binar seakan-akan dia baru saja berkata klub bola kesayangannya baru saja memenangkan Liga Inggris! Tapi sekarang bukan musim pertandingan bola! Aku yakin akan hal itu. Setelah Aku berhasil membawa diriku lagi. Aku berusaha mengkonfirmasikan ucapannya.

‘Sorry. Katamu tadi…?’ ternyata Aku benar-benar shock. Karena suaraku sedikit serak, Aku tidak bisa meneruskan ucapanku dan menggantungnya dengan tatapan bingung. Ferdi membalasku dengan tatapan ‘kamu sudah mendengarnya dengan jelas dan itu benar’.

‘Saat Aku di Bandung, ternyata ada musician dari Amerika yang mendengarku bernyanyi. Dia bilang permainan pianoku juga sangat bagus dan saat Aku bilang Aku juga menulis semua lagu bahasa Inggris di band-ku dia semakin tertarik. Mark Lang, namanya. Menawarkanku untuk pergi ke NYC dan mengembangkan bakatku. Setelah Aku pikir-pikir, wouldn’t that be great or what? Aku bisa bekerja sama dengan professional dan sekaligus go international. Itu adalah suatu kesempatan emas untuk musisi seperti Aku khan? Dita?’ Ferdi melihatku meminta persetujuan. Aku hanya bisa mengangguk lemah. Masih bingung dan tiba-tiba Aku tersadar.

No, it’s not okay!

‘Tapi bagaimana dengan band-mu disini? Mamamu? And of all things, how about…us?’ tanyaku pelan. Tidak mau mendiskusikan ini dengan suara keras dan membuat seluruh isi restoran mendengar, eh?

‘Karena itulah Aku tidak sabar menceritakannya padamu. Soal bandku, yeah Aku akan keluar dari situ. Bukankah itu hal yang biasa di industri musik? Lagipula mereka tidak akan pecah gara-gara Aku. Trust me! Mereka adalah teman-temanku yang juga musisi handal. Mereka justru sangat mendukungku. Ibuku, Well, Aku tahu ia pasti akan sangat sedih dan kecewa. Tapi dengan sejalannya waktu, Aku yakin ia dapat mengatasinya. Lagipula khan masih ada adikku di Jakarta. Daann…mengenaimu. Ngg…Dita, Aku mau kau ikut denganku. Will you marry me? Dan kita pergi ke New York bersama?’ Deg! Kedua kalinya! Hening cukup lama. Terlalu lama! Sampai Aku akhirnya membuka mulut karena wajah Ferdi yang sudah menampakkan kekhawatiran. Tapi tidak ada suara yang keluar! Arrgh… what am i suppose to say! Aku tahu suatu saat bila hubungan kita terus lancar seperti ini, ia akan mengajakku menikah and we’ll lived happily ever after. Well, diluar semua pertengkaran dan permasalahan yang sering dikeluhkan teman-teman sekantorku tapi balik ke masalah utama. Aku tidak pernah menyangka kalau akan begini jadinya khan?! Menurutmu? Apa yang kau harapkan dari seorang musisi jazz jaman sekarang di Jakarta? Aku sudah cukup puas dan ikut senang apabila Ferdi bisa terus mendapat job manggung di kafe-kafe karena musik jazz sedang digandrungi sekarang. Tapi, ke New York?

‘Dita, Please…say something.’ Ferdi berusaha mengajakku berbicara lagi.

‘Haruskah…kamu pergi ke New York Fer? Um, don’t you think it’s too far?’ akhirnya Aku bisa mengeluarkan suara. Tapi pertanyaan macam apa itu? Tentu sebagai orang yang paling mengerti dia, Aku tahu itu adalah kesempatan terbaik yang tidak akan datang dua kali.

What an opportunity.

‘Aku kira kamu pasti bisa mengerti soal itu. Maksudku, daripada tinggal di Jakarta bukankah lebih baik mengambil kesempatan besar ini Dita? Aku sudah memikirkannya masak-masak dan Aku juga sudah memutuskannya. Sekarang Aku hanya ingin tahu dan satu-satunya yang ingin kuketahui adalah apakah kau, Andita. Mau menikah dan tinggal bersamaku disana? I know it’s not gonna be that easy. But we can work it out. Maaf kalau Aku tidak sempat mempersiapkan cincin dan sebagainya. Tapi itu karena Aku ingin segera menceritakannya padamu.’ Tanya Ferdi sekali lagi dan berusaha meyakinkanku.

Saat itu Aku benar-benar berada di kebingungan yang amat sangat. Satu kata saja dan itu bisa merubah hidupku selamanya. Aku mencintai Ferdi. Sangat. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya dengan orang lain. Ferdi adalah orang yang supel dan humoris. Selain itu Aku juga mengagumi Ferdi karena sangat jarang sekarang ini untuk menemui seorang pria yang masih mengejar impiannya tanpa mempedulikan pendapat orang lain. An Idealist. Itulah yang membuat Ibuku melarangku berhubungan dengannya. Ayahku? Dia tidak berkata apa-apa dan tidak menghalangiku. Tipikal. Tapi tentu saja Aku bukan tipe orang yang begitu mempedulikan pikiran orangtuaku saat Aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri khan? Aku bukan anak kecil lagi dan Aku tahu apa yang terbaik untukku. Then surprisingly, my answer is,

‘Maaf Ferdi, Aku…tidak bisa’ Ha! Itulah jawabanku. Bukan suatu kekeliruan dan untuk menunjukkan hal itu benar, Aku menatap Ferdi dengan tatapan yang serius dan sikap yang tegas. Aku melepaskan kedua tanganku dari genggamannya.

‘Why? Aku harap kau punya alasan yang tepat.’ Tanya Ferdi. Ia melihatku dengan tidak kalah serius. Aku tahu Ferdi. Aku hanya perlu menjawabnya dengan alasan yang rasional dan mantap dan ia akan menerimanya dengan besar hati. Ia tidak akan memaksaku. Itulah salah satu yang kusuka darinya. Ia sangat menghargai dan menghormati orang lain. Lalu pada saat kau salah, ia akan ada disana untuk mendukungmu. Tapi ini berbeda, ujung dari ini adalah perpisahan. Ujung yang kupilih.

‘Well, kau sendiri tahu sekarang kehidupanku telah berubah drastis. Bahkan kaulah salah satu orang yang terus mendukungku dan mengetahui yang sesungguhnya terjadi pada saat Aku sedang “jatuh” dulu. Dan sekarang, Aku sedang berada di keadaan dimana Aku dapat berhasil dengan usahaku sendiri. Aku benar-benar menikmatinya. Maksudku, untuk pertama kalinya dalam hidupku Aku tidak perlu bergantung pada orangtuaku dan Aku ingin sekali bisa mencapai puncaknya. Puncak dari keberhasilanku. Dan Aku rasa ini terlalu cepat. Bukankah begitu? Tapi bukan hubungan kita. Aku…Aku sangat mencintaimu Ferdi. Tetapi, Aku tidak bisa meninggalkan apa yang sudah susah payah kuraih dan ingin kubuktikan ini. Kau pasti mengerti maksudku khan?’ Jelasku pada Ferdi. Alasan yang benar-benar adil khan? Pekerjaan Aku dan dia. Sebagai orang dewasa, kita pasti memiliki ego masing-masing untuk mempertahankan apa yang sudah kita raih dan tidak mau membuangnya. Selain itu kau sedang berbicara dengan orang yang paling mengerti dirimu. Orang yang kau ajak berbagi segalanya. Tidak akan ada yang lebih mudah. Ferdi terdiam. Aku tahu ia sudah mengerti.

Malam itu tidak banyak yang kita bicarakan. Aku hanya menanyakan beberapa detail tentang kepergiannya itu. Yang segera kuhentikan, karena justru membuatku sadar kalau this is for real! dan obrolan kami menjadi kaku. Akhir dari pertemuan kita hari itu, tidak seperti biasanya Ferdi hanya mengecupku ringan di pipiku dan mengantarku ke mobil. Aku berusaha untuk tegar dan membalasnya dengan senyuman yang sedikit bergetar. Tetapi pada saat Aku sampai di rumah, Aku langsung ambruk di sofa. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Tentu saja malam itu Aku menangis dan bersedih yang berlangsung hingga beberapa minggu berikutnya.

Sampai saat itu tiba.

Saat ia berangkat. Meninggalkanku.

‘Hmm…then, this is it.’ Ferdi menghentikan langkahnya di depan pintu batas untuk para penumpang. Ibunya yang sebelumnya tinggal bersama, sudah lama pindah dengan adiknya. Tidak tahan melepas kepergian anaknya itu.

‘Yeah, jaga dirimu baik-baik OK?’ pesanku. Aku tidak mau berbicara banyak. Sudah susah payah Aku menahan air mataku untuk hari ini dan Aku tidak mau mengeluarkannya. Tidak sekarang.

‘Kamu juga. Keep contact. Aku mau tahu segalanya tentangmu. Or if you suddenly change your mind. Just give me a call! Okay?’ Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Ferdi hanya menatapku, kami berdua tahu itu tidak akan mungkin terjadi. Karena aku, adalah orang yang sangat keras kepala. Yep, that’s me! A woman who keeps her head high and never take back her words. Tidak lama kemudian Ferdi memecahkan keheningan kami berdua dengan membalikkan badan dan masuklah ia ke dalam. Tanpa kata-kata lagi. Aku pikir dia juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak tahu kenapa, Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku terus tertahan, berdiri diluar. Mengikuti setiap gerakan Ferdi dengan mataku yang sedang mengantri di konter dan akhirnya selesai mengurus bagasinya. Seketika Ferdi menoleh ke arahku dan tak terelakkan tatapan mata kami pun terpaut. Pada detik itu, Ia bergegas berjalan keluar menuju ke arahku dan akhirnya menetes juga air mata yang sudah susah payah kutahan. Saat ia tepat berada di depanku, ia memelukku untuk terakhir kalinya dan kami pun berpisah. Sampai saat ini.

‘Kepada para penumpang pesawat Garuda GA412 tujuan Bali kami persilahkan memasuki pesawat dan diutamakan untuk penumpang first class dan business class terlebih dahulu dan penumpang economy class dengan nomor kursi 50 keatas. Terima kasih.’ Aku tersadar saat mendengarkan suara pemberitahuan itu. Saatnya Aku masuk kalau begitu. Aku tidak mau tanggung-tanggung menggunakan liburanku kali ini, jadi Aku mengambil first class sebagai hadiah untukku sendiri. Yah, sebenarnya tadi Aku juga bisa saja memakai lounge khusus untuk first class-ku. Tapi Aku sedikit canggung untuk hal seperti itu. Dan untungnya Martha tidak tahu soal ini. Yap, Sebenarnya ini semua ide Martha. “Ambil first class dan menginaplah di hotel termahal. Siapa tahu pertemuanmu dengan orang-orang baru dan manjakan dirimu dengan sedikit kemewahan bisa membuat kau kembali bersemangat.” Dan ia benar, selalu benar. Apalagi yang diperlukan seorang wanita bodoh yang masih memikirkan mantan kekasihnya yang sudah lama pergi meninggalkannya. Well, the truth is… Aku belum benar-benar bisa melupakan Ferdi! Sebenarnya alasan Aku bekerja keras akhir satu tahun ini juga dikarenakan hal itu. Selain itu Aku juga ingin membuktikan bahwa alasanku untuk berpisah dengannya waktu itu benar adanya. Pernah sih, Aku berkencan dengan beberapa pria. Tapi seperti yang Aku bilang tidak ada yang bisa seperti Ferdi. Maksudku bukan dari segi musisi atau apa, hanya saja dia itu berbeda. Sulit dijelaskan, tapi intinya Aku tidak tertarik dengan pria-pria yang mempunyai rutinitas. Pergi ke kantor dari senin sampai jumat, lalu jumat malam atau minggu hang out dengan teman-temannya dan sabtu saatnya untuk bersama pacar. That kind of things. Dimana lagi menemukan pria-pria seperti itu selain di Jakarta. Pertamanya memang biasa-biasa saja, tapi pasti akan ada saatnya dimana mencapai titik jemu dan Aku bukan tipe orang yang suka hidup membosankan. Karena itulah, Aku memilih bekerja sebagai publicist. Kesempatan bertemu dengan orang-orang yang selalu baru dengan lingkungan yang beragam. God, I love my job. Aku tersenyum simpul ketika memikirkan hal itu, tepat pada saat seorang pramugari mempersilahkan Aku memasuki area first class di sebelah kiri. Aku ditempatkan di sebelah jendela, dan tidak ada kursi disebelahku layaknya economy class. Bagus, dengan begitu Aku bisa menghindar dari percakapan tidak penting yang biasa dilontarkan oleh orang di sebelahmu di pesawat. But hey, this is first class. Aku baru teringat, mana ada orang-orang yang peduli untuk berbicara dengan orang lain. Para high class itu. Mereka terlalu penting dan sibuk untuk memikirkan diri mereka sendiri. Aku pun berpikir untuk meminta apple juice atau semacamnya pada pramugari. Yang ternyata sudah mereka persiapkan karena tidak sampai semenit, ada seorang pramugari yang menghampiriku dan menawarkan minuman dan snack sebelum take off. Hmm…I can’t wait to experience the rest of my trip.