28 January 2009

Make me Smile

‘Hai Dita. Bagaimana liburanmu kemarin?’ Tasya rekan kerjaku di kantor menghampiriku saat Aku sedang membuat kopi untuk menemaniku bekerja hari ini. Lumayan dekat. Sebenarnya dia salah satu dari teman terdekatku di kantor.

‘Hmm…not bad.’ Jawabku berbohong sambil berjalan menuju ke mejaku bersama Tasya. Sudah tidak mau mengungkit tentang Angga lagi karena Aku belum bisa sepenuhnya melupakan dia.

‘Yeah right. Cerita padaku nanti ya. Karena sepertinya lebih dari lumayan....’ serius deh. Memang wajahku sebegitu mudahnya terbaca ya? ‘…Lagipula sekarang Pak Frank sedang menunggumu di ruangannya. Kelihatannya penting.’ Kata Tasya.

‘OK. Trims ya.’ Aku menaruh kopiku di meja dan sekarang menuju ruangan bosku di ujung lorong.

Tok.Tok. Aku mengetuk pintu.

‘Masuk’ Terdengar suara berat dari dalam.

‘Permisi. Bapak ada perlu dengan Saya?’ tanyaku sambil menutup pintu.

‘Ah Andita. Duduklah. Bagaimana liburanmu kemarin? Menyenangkan? Saya harap begitu. Karena langsung saja, ada pekerjaan yang ingin kuserahkan padamu.’ Sambut Pak Frank yang memang selalu straight forward kalau sedang berbicara itu. Itulah yang kuhormati darinya. Tidak suka berbasa basi dalam pekerjaan. Dan benar Andita, ini saatnya kau fokus pada pekerjaanmu. LIburanmu sudah lewat. Jangan pikirkan pria brengsek itu lagi.

‘Apakah itu pekerjaan yang tempo hari Bapak beritahukan sebelum Saya mengambil cuti? Seorang fashion designer pendatang baru yang ingin mempublikasikan clothing line-nya.’ Tanyaku sambil duduk di hadapan bosku setelah ia menawarkan.

‘Betul. Tapi ternyata sebenarnya dia bukan pendatang baru sama sekali. Dia sudah mempunyai suatu butik di Bandung dan ingin memperluas penjualannya ke Jakarta. Hanya saja dia cukup terkenal disini. Mantan model top. Karena itulah dia ingin membuat suatu event peragaan busana besar-besaran dengan banquet sekaligus konferensi pers di hotel bintang lima.’ Jelasnya. Hmm…ada sedikit fakta yang menggelitikku dan ingin kutanyakan.

‘Kalau begitu…siapa nama perancang berbakat ini Pak Frank?’ Tanyaku dan berharap semoga dugaanku salah.

‘Marciana Betti. Kau tahu?’ katanya. Ha! Menarik. Persis seperti yang kukhawatirkan! Marciana Betti, seorang sosialita sekaligus model yang dulu sempat menjadi incaran semua desainer terkenal untuk memeragakan pakaian mereka baik di dalam maupun luar negeri, menjadi icon sebuah merk kosmetik terkenal di Indonesia dan setelah berhenti menjadi model, sekarang membuka butik pakaian bernama Envious di Bandung dengan koleksi rancangannya sendiri yang saat ini sedang diburu oleh banyak orang. Karena rancangannya yang konservatif, elegant tapi tetap ready-to-wear. Selain itu berita mengenai keberadaanya juga cukup tersebar karena ia mempunyai koneksi dengan para selebriti, model papan atas dan sosialita Jakarta masa kini. Fakta lain yang kuketahui dengan pasti, nama aslinya memang Marciana Betti, tetapi semenjak menikah namanya berubah menjadi Marciana Irvine. Tak lain dan tak bukan dia adalah…Ibuku.

‘Halo…Ma? Ini Aku Andita.’ Kataku di telepon. Sesaat setelah Aku selesai membicarakan pekerjaanku dengan Pak Frank di ruangannya, hal pertama yang kulakukan adalah menelepon Ibuku. Tentu saja untuk meminta penjelasannya.

‘Dita...ada apa? Tumben kamu telepon. Bagaimana kalau hari ini kita makan siang?’ Aku tersenyum tak percaya dan menggelengkan kepalaku.

‘Tidak bisa. Aku ada pekerjaan yang mendesak. Harus menemui klien setelah makan siang nanti.’ Jelasku.

‘Oh, Sayang sekali. Tapi kebetulan, Aku juga ada sedikit urusan siang ini. Kau mau menemui siapa nanti? Selebritis lagi? Siapa tahu Aku kenal’ tanya Ibuku.

‘Menemuimu Ma.’ Jawabku singkat.

‘Tapi Aku sibuk hari ini Sayang.’ Aku lega karena ternyata Ibuku memang seperti yang kukira. Aku tersenyum lagi.

‘Aku mau menemui klienku. Marciana Betti. Ma, apa Mama tidak sadar kalau Mama sudah menggunakan perusahaanku untuk mempublikasikan clothing line Mama?’ Kataku akhirnya. Memang Ibuku tidak pernah mempedulikan hal-hal seperti ini dan Aku yakin dia tidak memilih perusahaanku karena Aku bekerja disini. Bukannya dia tidak memperhatikanku, justru sebaliknya. Hanya saja, terkadang dia itu suka nggak ngeh dan melakukan apapun yang sudah diputuskannya dan menurutnya benar. Sifat Ibuku.

‘Oh. Sepertinya Sylvie pernah menyebutkannya tapi kebetulan sekali bukan?! Kalau begitu Aku bisa menyerahkan semuanya padamu dengan tenang ya? Tadinya Aku sudah waswas dengan rencana ini. Sekarang Aku tidak perlu khawatir lagi.’ katanya antusias.

‘Iya Ma. Walaupun tidak sesimpel itu…anyway Sylvie mana? Aku yakin dia yang akan mengurus semua ini khan?’ percuma membicarakan sesuatu yang rumit dengan Ibuku. Lagipula, she wouldn’t bother after all. Tapi bila itu soal fashion, etiket atau cara untuk menjadi ibu rumah tangga masa kini yang aktif dan dinamis maka kau tidak akan bisa mendiamkannya. Cukup berdiam diri saja dan kau akan diberi kursus kilat mengenai kedua hal itu.

‘Adikmu masih di Bandung. Tapi setelah ia menemukan seseorang untuk mengawasi butikku, ia akan segera ke Jakarta bersama Alif.’ Sedikit informasi, Sylvie adikku yang hanya beda tiga tahun denganku sudah menikah dan sekarang tinggal di Bandung bersama suaminya. Kesibukannya sekarang adalah mengurus anaknya Alif yang masih berumur 3 tahun dan manajemen butik Ibu kami. Lumayan genting juga dulu. Sewaktu ia akan menikah. Karena berarti ia harus melangkahiku. Sebenarnya Ibuku yang membuat situasinya menjadi seperti itu. Bagaimanapun juga adat Jawa di keluarga kami dari Ibu masih cukup kental (yang terkadang membuatku sedikit heran dengan pemberian nama untuknya dan saudara-saudaranya yang lain), jadi setelah melalui perdebatan panjang mengenai kewajibanku untuk segera mencari seorang pria untuk kunikahi lebih dulu dan penolakan kerasku akan hal itu akhirnya Ibuku mengalah dan membiarkan Sylvie menikah terlebih dahulu. Keuntungannya bagiku? Biaya langkahan dari Sylvie yang sekarang menjadi kendaraanku setiap hari. Honda New City. Hasil dari pekerjaannya ketika magang menjadi seorang stylist di sebuah production house di New York pada saat dia kuliah dulu. Sebenarnya sih orangtuaku sanggup membiayai semua kebutuhannya, tapi begitulah adikku dan kenyataan bahwa semua keluargaku mempunyai ketertarikan di bidang fashion kecuali Ayahku yang seorang dokter ahli bedah di suatu rumah sakit Internasional. Aku tidak heran dengan keputusan adikku yang tidak mau melewatkan kesempatan langka itu.

‘Eddi?’ Eddi Iskandar, suami adikku. Seorang arsitek landscape yang cukup sukses dan dikenal tidak hanya di Bandung tapi juga di Jakarta, bahkan sampai ke Singapore dan Malaysia. Karena dialah adikku pindah ke Bandung dan awal pertemuan mereka adalah pada saat Sylvie dan Ed sama-sama kuliah di Columbia University, NYC. Sylvie mengambil jurusan bisnis dan Ed mengambil gelar master arsitek-nya pada jurusan Urban Living.

‘Dia masih punya satu proyek yang harus diselesaikannya. Tapi sepertinya ia akan menengok ke Jakarta kalau ada waktu senggang. Memang kenapa Sayang?’ kata Ibuku.

‘Tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu Aku akan menelepon Sylvie dan sampai bertemu nanti ya Ma.’

‘OK honey.’

‘Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang dari tadi mau kutanyakan.’

‘Ada apa?’

‘Mengapa Marciana Betti dan bukan Irvine?’ tanyaku memastikan.

‘Ah! Soal itu. Simpel saja. Alasannya karena nama itu lebih mudah diingat. Lagipula… lebih komersil dan unique daripada Marciana Irvine bukan?’ Hah, Ibu. Akupun mengakhiri pembicaraanku di telepon dan menenggak habis kopi yang kuambil tadi.

No comments:

Post a Comment