20 January 2009

The Night We Called it a Day

Saat ini Aku sedang berada di airport Soekarno-Hatta. Tidak sabar rasanya membayangkan dua jam lagi Aku akan sampai di Bali! Yap, Pilihan yang tepat untuk melupakan semua masalah dan pikiran yang membayangiku di Jakarta. Well, sebenarnya kuakui akulah yang membuat diriku sendiri seperti itu. Dua belas jam kuhabiskan di kantor (kecuali pada saat Aku harus menemui klien, Aku akan menghabiskan waktuku di luar) sampai-sampai tidak ada waktu lagi untuk bersosialisasi dengan teman-temanku. Dan bila sudah memasuki weekend, karena terlalu lelah bekerja, Aku lebih memilih untuk bermalas-malasan di apartmentku yang mungil, memesan pepperoni pizza ekstra keju-nya Fast Eddie’s atau sebungkus coklat Maltesers yang kubeli di The Cocoa trees, menghabiskan novel by Allison Rushby, Ros Reines, atau novel-novel Red Dress Ink lainnya yang belum sempat kubaca atau mungkin menonton DVD drama romantic comedy koleksiku. Favoritku adalah apalagi kalau bukan “You’ve Got Mail”! Seperti yang Susan Wloszczyna dari USA TODAY katakan, “Tom Hanks and Meg Ryan should win the Nobel Prize for chemistry!” and I absolutely agree with that! Selain itu pilihan favoritku yang lain adalah “Sleepless in Seattle” (dimainkan oleh mereka berdua juga tentunya!), dan film-film lainnya yang dimainkan oleh Sandra Bullock, Kate Hudson, dan pria favoritku yang kunilai sebagai the sexiest man on earth, Johnny Depp! Tapi, kalau Aku sudah terlalu bosan dengan semua kegiatan itu, biasanya Aku langsung pergi tidur di kasurku yang empuk atau pergi ke gym untuk yogalates setelah mengecek kulitku yang sudah mulai mengendur dan perlu dikencangkan lagi atau sekedar bermain squash dengan ayahku. Tentu saja bila ia juga sedang senggang. Kalau saja – sahabatku sejak masa kuliah dulu – Martha, tidak menyarankan (tepatnya memaksa) Aku untuk mengambil cuti beberapa hari dan berlibur, pasti saat ini Aku masih berkutat di kantor menyelesaikan semua pekerjaan-pekerjaan yang terus berdatangan.

Setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga Aku mengambil liburan saat ini. Selain untuk melepas stress karena pekerjaan, tapi Aku juga menghindar dari Ibuku. Ibuku yang setiap hari selalu merecokiku dengan telepon-teleponnya untuk mengajakku makan siang dan menjodohkanku dengan pria-pria eksekutif yang sudah mapan. Gila! Aku benar-benar tidak tahu darimana ia bisa menemukan mereka. Mario, Tommy, Joe dan masih banyak lagi para pria yang tidak Aku ingat namanya. Memang sih maksudnya baik dan bukan berarti tidak ada yang menarik dari mereka. Malahan mereka lebih cocok ada di cover majalah dengan celana renang speedo yang seksi dan berpose keluar dari kolam renang seperti yang biasa Aku lihat di majalah Men’s health daripada memakai kemeja dan dasi seperti layaknya eksmud biasa. Setiap kali menemui salah satu dari mereka (dan bila Aku sudah kehabisan alasan untuk tidak makan siang pada ibuku), Aku selalu berpikir kalau diluar sana pasti banyak sekali wanita-wanita yang ingin menjadi kekasih mereka dan apa ini? Mereka malah makan siang bersama Aku yang sama sekali tidak menaruh perhatian pada mereka. Biasanya setelah melihat sinyal ketidaktertarikanku pada mereka, sebagai seorang gentleman mereka akan menarik diri. Mundur. Berbasa-basi untuk suatu saat bertemu lagi dan seperti terkaanku tidak akan ada lagi kabar dari mereka. Tapi, pasti ada saja yang mencoba. Misalnya waktu itu ada Benny, seorang akuntan di suatu perusahaan otomotif menelepon (tepatnya meninggalkan pesan, karena seperti yang kubilang tadi, Aku menghabiskan banyak waktuku di kantor) dan mengajakku makan malam. Tapi waktu itu Aku sedang sangat lelah akibat lembur dan menyetir sendirian di kemacetan di kuningan (kena macet di Jakarta? Hell. Yes!) yang membuatku stuck di depan kantor selama 2 jam! Aku membalas teleponnya dengan mengatakan alasan apa saja yang terlintas saat itu, yang kebanyakan tidak bisa Aku ingat dan langsung pergi tidur. Suatu saat pernah Aku salah meninggalkan pesan pada Ibuku, yang membuatku sekarang lebih berhati-hati lagi untuk tidak salah sambung. Karena pagi harinya Ibuku menelepon yang membuatku harus memegang gagang teleponku sedikit menjauh dari telingaku karena ia berteriak ‘Apa maksudmu sakit cacar nona?! Kau sudah kena waktu SD!!’ dan sisanya yang tidak terdengar karena Aku meninggalkan teleponku di atas meja dan meneruskan membuat chicken sandwich with ginger and shallot sauce untuk sarapanku saat itu.

Well, sebagai bentuk rasa percaya diriku Aku tidak menyalahkan mereka yang tetap tertarik padaku. Walaupun pola makanku yang tidak selalu sehat (junk food itu kepuasan hidup!) dan hanya berolahraga bila kurasa perlu, Aku cukup memperhatikan penampilanku. Pergi ke salon 2 minggu sekali untuk sekedar hair spa dan manicure bersama Martha, shopping beberapa merk clothing favoritku seperti BCBG Max Azria, Oasis Debenhams atau Zara (Aku tidak begitu suka merk high class seperti Prada atau Louis Vuitton. Terlalu mewah. Tapi dengan merk-merk tadi, setidaknya Aku tidak terlalu out of fashion) dan sebagainya tetap kulakukan. Selain itu yang paling Aku syukuri adalah wajah dan postur tubuh langsing dan tinggi keturunan Ibuku yang dulu pernah menjadi model catwalk terkenal dan berhenti karena menikah dengan ayahku. Jadi, tidak ada salahnya kalau Aku cukup bangga dengan wajahku yang cukup dipoles dengan bedak dan sedikit mascara untuk menonjolkan mataku yang berwarna coklat hazelnut, salah satu dari yang diturunkan dari Ayahku yang campuran Inggris selain rambutku yang coklat alami dan tulang pipi tinggi serta kulit seperti hasil perfect tan dari Ibuku yang asli Jawa pada saat semua orang berusaha untuk melakukan fake tanning. Semuanya itu, adalah keberuntunganku. Karena adikku, Sylvie. Selalu merasa iri padaku akibat tubuhnya yang tidak begitu tinggi (dibandingkan denganku yang 177 cm ya. Adikku 168 cm. Saja.), tulang besar keturunan dari Ayahku yang membuatnya terlihat lebih subur, apalagi sekarang setelah melahirkan. Tetapi dengan rambut hitam legam yang indah dan paras yang sangat Indonesia dari nenek pihak Ibu yang kemungkinan besar akan selalu dipilih untuk mewakili tanah air apabila diikutkan pada pemilihan putri Indonesia atau semacamnya.

Lamunanku terhenti ketika Aku sudah sampai pada giliranku saat mengantri di konter Garuda untuk check in dan disambut dengan senyuman hangat dari petugas konter yang Aku yakin sudah ia lakukan sepanjang hari ini. Setelah memastikan mengambil window sit dan tidak ada bagasi, Aku keluar dari antrian. Mengangguk pada petugas yang mengucapkan selamat jalan, menarik koper samsonite-ku dan berjalan menuju ke boarding room. Sampai disana, Aku mengambil tempat duduk terbaik (menurutku. Depan TV dan tidak ada asbak di dekatku, sehingga tidak akan ada yang merokok. Aku sedang berusaha berhenti.) dan menunggu disana sampai saatnya masuk pesawat. Tidak seperti orang lain yang biasanya keluar lagi untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan terakhir pada keluarga mereka yang mengantarkan dan mengatakan akan merindukan mereka semua. Bah. Menurutku tidak sampai 5 menit, mereka akan segera melupakan keluarganya. Toh, ada sesuatu yang lebih menarik untuk dipikirkan, yaitu tempat tujuan mereka dan semua yang menanti mereka disana. Hal ini mengingatkanku pada satu tahun lalu. Yap, tepat satu tahun yang lalu, Aku mengantar kepergiannya. Ah Shit, perlukan kuceritakan sekarang? oh baiklah, Aku mengantarkan Ferdi. Yah, dia itu mantan kekasihku. Kami sudah berkencan selama dua tahun. Selama itu dan sudah banyak sekali kenangan-kenangan diantara kami dan impian-impian konyol untuk masa depan kami berdua. Well, itu biasa khan? Untuk pasangan seumuran kami, (bukan berarti Aku sudah terlalu tua! Waktu itu Aku masih 26 tahun.) banyak sekali rasanya yang ingin dicapai. Mempunyai rumah idaman, dua atau tiga anak, memelihara anjing golden retriever atau berangan-angan untuk travelling berdua saja ke tempat-tempat liburan eksotis seperti Thailand atau pulau Bahamas. Tapi tiba-tiba, BANG! Aku tahu yang kau pikirkan. Bukan itu. Bukan kecelakaan pesawat yang membuatku berpisah dengannya. Aku yakin sekarang ini ia sedang hidup bahagia di Amerika sana. Ha! Itulah “bang” tadi, Ferdi sang musisi jazz berbakat yang mendadak memutuskan untuk menjajalkan kemampuannya di Amerika. Aku masih ingat sekali kejadian hari itu, seakan baru kemarin.

Senin yang kutunggu-tunggu, Aku berencana pergi makan malam bersama Ferdi setelah weekend kemarin tidak bertemu karena ia harus tampil bersama band-nya yang beraliran jazz di Sierra Café and Lounge, Bandung. Aku sedikit lupa alasanku tidak ikut kesana, tapi Aku benar-benar ingat setiap kata yang ia ucapkan saat makan malam denganku saat itu. Kami bertemu di Marché, restoran favorit kami karena disitulah pertama kali kami bertemu. Saat itu (ketika makan malam, bukan saat pertama bertemu) ia sudah datang lebih dulu dan mengambil tempat duduk di lantai 2 di meja favorit kami. Aku melambai dari jauh dan menghampirinya.

‘Sudah lama?’ tanyaku pada Ferdi, duduk di sebelahnya dan mengecup pipinya.

‘Tidak Aku baru saja datang. Hei, Aku tahu kita baru bertemu dan sebagainya. Tapi Aku benar-benar tidak sabar untuk menceritakan sesuatu padamu.’ Ferdi tiba-tiba menggenggam kedua tanganku dan menghadap ke arahku dengan tatapan serius.

‘Don’t mind. Spill it out.’ Aku memainkan alisku dan menatapnya balik.

‘OK. Aku telah berpikir untuk…pindah ke New York.’ Deg! Ferdi mengatakannya dengan tatapan berbinar-binar seakan-akan dia baru saja berkata klub bola kesayangannya baru saja memenangkan Liga Inggris! Tapi sekarang bukan musim pertandingan bola! Aku yakin akan hal itu. Setelah Aku berhasil membawa diriku lagi. Aku berusaha mengkonfirmasikan ucapannya.

‘Sorry. Katamu tadi…?’ ternyata Aku benar-benar shock. Karena suaraku sedikit serak, Aku tidak bisa meneruskan ucapanku dan menggantungnya dengan tatapan bingung. Ferdi membalasku dengan tatapan ‘kamu sudah mendengarnya dengan jelas dan itu benar’.

‘Saat Aku di Bandung, ternyata ada musician dari Amerika yang mendengarku bernyanyi. Dia bilang permainan pianoku juga sangat bagus dan saat Aku bilang Aku juga menulis semua lagu bahasa Inggris di band-ku dia semakin tertarik. Mark Lang, namanya. Menawarkanku untuk pergi ke NYC dan mengembangkan bakatku. Setelah Aku pikir-pikir, wouldn’t that be great or what? Aku bisa bekerja sama dengan professional dan sekaligus go international. Itu adalah suatu kesempatan emas untuk musisi seperti Aku khan? Dita?’ Ferdi melihatku meminta persetujuan. Aku hanya bisa mengangguk lemah. Masih bingung dan tiba-tiba Aku tersadar.

No, it’s not okay!

‘Tapi bagaimana dengan band-mu disini? Mamamu? And of all things, how about…us?’ tanyaku pelan. Tidak mau mendiskusikan ini dengan suara keras dan membuat seluruh isi restoran mendengar, eh?

‘Karena itulah Aku tidak sabar menceritakannya padamu. Soal bandku, yeah Aku akan keluar dari situ. Bukankah itu hal yang biasa di industri musik? Lagipula mereka tidak akan pecah gara-gara Aku. Trust me! Mereka adalah teman-temanku yang juga musisi handal. Mereka justru sangat mendukungku. Ibuku, Well, Aku tahu ia pasti akan sangat sedih dan kecewa. Tapi dengan sejalannya waktu, Aku yakin ia dapat mengatasinya. Lagipula khan masih ada adikku di Jakarta. Daann…mengenaimu. Ngg…Dita, Aku mau kau ikut denganku. Will you marry me? Dan kita pergi ke New York bersama?’ Deg! Kedua kalinya! Hening cukup lama. Terlalu lama! Sampai Aku akhirnya membuka mulut karena wajah Ferdi yang sudah menampakkan kekhawatiran. Tapi tidak ada suara yang keluar! Arrgh… what am i suppose to say! Aku tahu suatu saat bila hubungan kita terus lancar seperti ini, ia akan mengajakku menikah and we’ll lived happily ever after. Well, diluar semua pertengkaran dan permasalahan yang sering dikeluhkan teman-teman sekantorku tapi balik ke masalah utama. Aku tidak pernah menyangka kalau akan begini jadinya khan?! Menurutmu? Apa yang kau harapkan dari seorang musisi jazz jaman sekarang di Jakarta? Aku sudah cukup puas dan ikut senang apabila Ferdi bisa terus mendapat job manggung di kafe-kafe karena musik jazz sedang digandrungi sekarang. Tapi, ke New York?

‘Dita, Please…say something.’ Ferdi berusaha mengajakku berbicara lagi.

‘Haruskah…kamu pergi ke New York Fer? Um, don’t you think it’s too far?’ akhirnya Aku bisa mengeluarkan suara. Tapi pertanyaan macam apa itu? Tentu sebagai orang yang paling mengerti dia, Aku tahu itu adalah kesempatan terbaik yang tidak akan datang dua kali.

What an opportunity.

‘Aku kira kamu pasti bisa mengerti soal itu. Maksudku, daripada tinggal di Jakarta bukankah lebih baik mengambil kesempatan besar ini Dita? Aku sudah memikirkannya masak-masak dan Aku juga sudah memutuskannya. Sekarang Aku hanya ingin tahu dan satu-satunya yang ingin kuketahui adalah apakah kau, Andita. Mau menikah dan tinggal bersamaku disana? I know it’s not gonna be that easy. But we can work it out. Maaf kalau Aku tidak sempat mempersiapkan cincin dan sebagainya. Tapi itu karena Aku ingin segera menceritakannya padamu.’ Tanya Ferdi sekali lagi dan berusaha meyakinkanku.

Saat itu Aku benar-benar berada di kebingungan yang amat sangat. Satu kata saja dan itu bisa merubah hidupku selamanya. Aku mencintai Ferdi. Sangat. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya dengan orang lain. Ferdi adalah orang yang supel dan humoris. Selain itu Aku juga mengagumi Ferdi karena sangat jarang sekarang ini untuk menemui seorang pria yang masih mengejar impiannya tanpa mempedulikan pendapat orang lain. An Idealist. Itulah yang membuat Ibuku melarangku berhubungan dengannya. Ayahku? Dia tidak berkata apa-apa dan tidak menghalangiku. Tipikal. Tapi tentu saja Aku bukan tipe orang yang begitu mempedulikan pikiran orangtuaku saat Aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri khan? Aku bukan anak kecil lagi dan Aku tahu apa yang terbaik untukku. Then surprisingly, my answer is,

‘Maaf Ferdi, Aku…tidak bisa’ Ha! Itulah jawabanku. Bukan suatu kekeliruan dan untuk menunjukkan hal itu benar, Aku menatap Ferdi dengan tatapan yang serius dan sikap yang tegas. Aku melepaskan kedua tanganku dari genggamannya.

‘Why? Aku harap kau punya alasan yang tepat.’ Tanya Ferdi. Ia melihatku dengan tidak kalah serius. Aku tahu Ferdi. Aku hanya perlu menjawabnya dengan alasan yang rasional dan mantap dan ia akan menerimanya dengan besar hati. Ia tidak akan memaksaku. Itulah salah satu yang kusuka darinya. Ia sangat menghargai dan menghormati orang lain. Lalu pada saat kau salah, ia akan ada disana untuk mendukungmu. Tapi ini berbeda, ujung dari ini adalah perpisahan. Ujung yang kupilih.

‘Well, kau sendiri tahu sekarang kehidupanku telah berubah drastis. Bahkan kaulah salah satu orang yang terus mendukungku dan mengetahui yang sesungguhnya terjadi pada saat Aku sedang “jatuh” dulu. Dan sekarang, Aku sedang berada di keadaan dimana Aku dapat berhasil dengan usahaku sendiri. Aku benar-benar menikmatinya. Maksudku, untuk pertama kalinya dalam hidupku Aku tidak perlu bergantung pada orangtuaku dan Aku ingin sekali bisa mencapai puncaknya. Puncak dari keberhasilanku. Dan Aku rasa ini terlalu cepat. Bukankah begitu? Tapi bukan hubungan kita. Aku…Aku sangat mencintaimu Ferdi. Tetapi, Aku tidak bisa meninggalkan apa yang sudah susah payah kuraih dan ingin kubuktikan ini. Kau pasti mengerti maksudku khan?’ Jelasku pada Ferdi. Alasan yang benar-benar adil khan? Pekerjaan Aku dan dia. Sebagai orang dewasa, kita pasti memiliki ego masing-masing untuk mempertahankan apa yang sudah kita raih dan tidak mau membuangnya. Selain itu kau sedang berbicara dengan orang yang paling mengerti dirimu. Orang yang kau ajak berbagi segalanya. Tidak akan ada yang lebih mudah. Ferdi terdiam. Aku tahu ia sudah mengerti.

Malam itu tidak banyak yang kita bicarakan. Aku hanya menanyakan beberapa detail tentang kepergiannya itu. Yang segera kuhentikan, karena justru membuatku sadar kalau this is for real! dan obrolan kami menjadi kaku. Akhir dari pertemuan kita hari itu, tidak seperti biasanya Ferdi hanya mengecupku ringan di pipiku dan mengantarku ke mobil. Aku berusaha untuk tegar dan membalasnya dengan senyuman yang sedikit bergetar. Tetapi pada saat Aku sampai di rumah, Aku langsung ambruk di sofa. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Tentu saja malam itu Aku menangis dan bersedih yang berlangsung hingga beberapa minggu berikutnya.

Sampai saat itu tiba.

Saat ia berangkat. Meninggalkanku.

‘Hmm…then, this is it.’ Ferdi menghentikan langkahnya di depan pintu batas untuk para penumpang. Ibunya yang sebelumnya tinggal bersama, sudah lama pindah dengan adiknya. Tidak tahan melepas kepergian anaknya itu.

‘Yeah, jaga dirimu baik-baik OK?’ pesanku. Aku tidak mau berbicara banyak. Sudah susah payah Aku menahan air mataku untuk hari ini dan Aku tidak mau mengeluarkannya. Tidak sekarang.

‘Kamu juga. Keep contact. Aku mau tahu segalanya tentangmu. Or if you suddenly change your mind. Just give me a call! Okay?’ Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Ferdi hanya menatapku, kami berdua tahu itu tidak akan mungkin terjadi. Karena aku, adalah orang yang sangat keras kepala. Yep, that’s me! A woman who keeps her head high and never take back her words. Tidak lama kemudian Ferdi memecahkan keheningan kami berdua dengan membalikkan badan dan masuklah ia ke dalam. Tanpa kata-kata lagi. Aku pikir dia juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak tahu kenapa, Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku terus tertahan, berdiri diluar. Mengikuti setiap gerakan Ferdi dengan mataku yang sedang mengantri di konter dan akhirnya selesai mengurus bagasinya. Seketika Ferdi menoleh ke arahku dan tak terelakkan tatapan mata kami pun terpaut. Pada detik itu, Ia bergegas berjalan keluar menuju ke arahku dan akhirnya menetes juga air mata yang sudah susah payah kutahan. Saat ia tepat berada di depanku, ia memelukku untuk terakhir kalinya dan kami pun berpisah. Sampai saat ini.

‘Kepada para penumpang pesawat Garuda GA412 tujuan Bali kami persilahkan memasuki pesawat dan diutamakan untuk penumpang first class dan business class terlebih dahulu dan penumpang economy class dengan nomor kursi 50 keatas. Terima kasih.’ Aku tersadar saat mendengarkan suara pemberitahuan itu. Saatnya Aku masuk kalau begitu. Aku tidak mau tanggung-tanggung menggunakan liburanku kali ini, jadi Aku mengambil first class sebagai hadiah untukku sendiri. Yah, sebenarnya tadi Aku juga bisa saja memakai lounge khusus untuk first class-ku. Tapi Aku sedikit canggung untuk hal seperti itu. Dan untungnya Martha tidak tahu soal ini. Yap, Sebenarnya ini semua ide Martha. “Ambil first class dan menginaplah di hotel termahal. Siapa tahu pertemuanmu dengan orang-orang baru dan manjakan dirimu dengan sedikit kemewahan bisa membuat kau kembali bersemangat.” Dan ia benar, selalu benar. Apalagi yang diperlukan seorang wanita bodoh yang masih memikirkan mantan kekasihnya yang sudah lama pergi meninggalkannya. Well, the truth is… Aku belum benar-benar bisa melupakan Ferdi! Sebenarnya alasan Aku bekerja keras akhir satu tahun ini juga dikarenakan hal itu. Selain itu Aku juga ingin membuktikan bahwa alasanku untuk berpisah dengannya waktu itu benar adanya. Pernah sih, Aku berkencan dengan beberapa pria. Tapi seperti yang Aku bilang tidak ada yang bisa seperti Ferdi. Maksudku bukan dari segi musisi atau apa, hanya saja dia itu berbeda. Sulit dijelaskan, tapi intinya Aku tidak tertarik dengan pria-pria yang mempunyai rutinitas. Pergi ke kantor dari senin sampai jumat, lalu jumat malam atau minggu hang out dengan teman-temannya dan sabtu saatnya untuk bersama pacar. That kind of things. Dimana lagi menemukan pria-pria seperti itu selain di Jakarta. Pertamanya memang biasa-biasa saja, tapi pasti akan ada saatnya dimana mencapai titik jemu dan Aku bukan tipe orang yang suka hidup membosankan. Karena itulah, Aku memilih bekerja sebagai publicist. Kesempatan bertemu dengan orang-orang yang selalu baru dengan lingkungan yang beragam. God, I love my job. Aku tersenyum simpul ketika memikirkan hal itu, tepat pada saat seorang pramugari mempersilahkan Aku memasuki area first class di sebelah kiri. Aku ditempatkan di sebelah jendela, dan tidak ada kursi disebelahku layaknya economy class. Bagus, dengan begitu Aku bisa menghindar dari percakapan tidak penting yang biasa dilontarkan oleh orang di sebelahmu di pesawat. But hey, this is first class. Aku baru teringat, mana ada orang-orang yang peduli untuk berbicara dengan orang lain. Para high class itu. Mereka terlalu penting dan sibuk untuk memikirkan diri mereka sendiri. Aku pun berpikir untuk meminta apple juice atau semacamnya pada pramugari. Yang ternyata sudah mereka persiapkan karena tidak sampai semenit, ada seorang pramugari yang menghampiriku dan menawarkan minuman dan snack sebelum take off. Hmm…I can’t wait to experience the rest of my trip.

No comments:

Post a Comment